Tentang Sapa-Menyapa

Oleh : Pijar Riza (Biologi 2008)

Saya sedang berjalan menuju warnet langganan yang jauhnya beberapa blok dari rumah ketika berpapasan dengan dia. Wajahnya gak pernah berubah, semakin tua, namun rasanya tetap sama seperti ketika pertama kali saya melihatnya dulu (kalau tidak salah waktu SD). Dia masih menaiki sepeda yang sama, sepeda warna biru yang punya keranjang di depannya. Sepedanya pun masih oleng dengan cara yang sama. Semua orang di kompleks memanggil wanita itu “Mak”. Saya gak tahu nama aslinya siapa, saya juga memanggilnya dengan sebutan yang sama. Setau saya, Mak selalu dititipi uang (plus, plus) oleh orang-orang sekomplek yang terlalu sibuk untuk membayar tagihan listrik, air, atau telfon. Ibu saya sering sekali menggunakan jasa dari Mak, jadi saya cukup familiar dengan dia, dan sebaliknya. Namun akhir-akhir ini saya jarang ada di rumah (kampusku, rumahku), jadi sudah cukup jarang bertemu dengan Mak.

Oleh karena itu, ketika berpapasan dengan dia, saya menyempatkan diri untuk menyapa, sambil sedikit menundukkan kepala dan tersenyum simpul (baru level 3 bila dibandingkan dengan senyum Herafi yang level 10), Sundanese style.

Saya: “Mak…”
Mak: “…”

Saya pun berlalu, tak mengharapkan respon apa-apa karena memang cuma formalitas belaka. Budaya sunda menyarankan anak muda untuk menyapa bila berpapasan dengan orang yang lebih tua,sebagai tanda hormat, minimal sekedar “punten…” kalau kita tidak tahu namanya. Tapi tak diduga, beberapa detik setelahnya saya mendengar rem sepedanya berdecit keras. Saya menoleh, berat tubuh Mak ikut terlempar kedepan sebagai konsekuensi dari Hukum Newton 1 (Inersia, setiap objek akan mencoba mempertahankan posisinya selama tidak ada gaya lain yang mempengaruhi objek tersebut). Kakinya berpijak ke tanah untuk ikut membantu menjalankan fungsi rem sepedanya yang sudah kurang pakem (maklum, sepeda tua). Tiba-tiba, Mak berhenti dan menoleh ke arah saya.

Mak: “Eh, kamu, kamu, kamu teh anak si itu, ya? Bapak siapa, sih? Emmm…..” (Dia menyebut nama-nama orang yang nyerempet nama-nama ayah saya: Sapardi, Suparman, Brad Pitt, Arnold Schwarzenneger, Bruce Willis, dll.)
Saya: “Saya anak Pak Safari, Mak.”
Mak: “Pak Safari?”
Saya: “Suaminya Bu Tatin.”
Mak: “Waaaah…ncep, kasep pisan sekarang. Subhanallah…kelas berapa, sekarang cep? Eh, masih di pasantren yah?”
Saya: “Sudah kuliah, bu.”
Mak: “Ooooh…Iya? Di mana?”
Saya: “ITB”
Mak: “Hebaaaat, euy si Ncep. Nah gitu orang pinter, orang soleh mah nyapa ke orang tua, teh. Waah…meni kasep pisan, euy sekarang mah. Udah bujang, lagi…”

Saya hanya tersenyum (tapi level senyumannya naik karena saya senang habis dipuji ganteng). Saya sama sekali gak menyangka kalau sapaan sederhana yang diniatkan hanya untuk formalitas belaka bisa membuat Mak sangat senang. Mungkin, sapaan itu membuatnya merasa diingat, sesuatu yang mungkin sangat berarti bagi seseorang yang sudah berumur. Hanya sebuah sapaan, dan saya dibilang ganteng. Luar biasa. Dalam hati sedikit-sedikit saya berharap (atau lebih tepatnya berkhayal), kalau Mak bertemu dengan seorang ibu yang punya anak perempuan cantik lalu merekomendasikan saya sebagai calon menantu (saya senyum-senyum sendiri. Level 5). Hahahahaha…

Sebuah sapaan bukan hal yang besar, bukan hal yang sulit. Berapa, sih ATP yang harus dipecah oleh sel supaya kita bisa tersenyum dan mengucap “Hai…”? Saya rasa gak sebanyak ketika kita berlari sprint atau push-up, misalnya. Tapi ternyata sebuah sapaan bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang kita temui. Saya sendiri merasa senang kalau disapa, serasa dihargai karena telah ikut serta dalam minimal sebuah episode kehidupan orang lain. Agama Islam menganjurkan pada umatnya untuk saling menyapa bila bertemu. Bahkan secara tegas mengatakan kalau sebuah sapaan “Assalamualaikum” (semoga keselamatan untukmu) adalah hak dari muslim yang ditemui, dan oleh karena itu harus diucapkan. Kenapa? karena dalam sapaan, baik itu yang mendoakan keselamatan atau yang cuman sekedar memberitahu waktu (selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dsb), terdapat indikasi kepedulian kita terhadap orang lain. Dengan menyapa, kita secara tidak langsung menganggap orang lain memiliki peran yang berharga, bukan sekedar figuran.

Maka ayo mulai saling sapa-menyapa, apalagi kalau bertemu dengan jahim yang sama🙂. Tak perlu high-five atau breakdance, cuman sebut namanya atau minimal cuman “Akang…” atau”Teteh…” aja kalo gak tau nama. Lambaikan tangan atau rendahkan kepala (kalau berpapasan sama orang yang lebih tua), dan jangan lupa, Senyum! Tuh, gak susah, kan?

Menahan Godaan Duniawi

Oleh : Erlambang Aji (Mikrobiologi 2008)

Kita mengemban sebuah misi, visi, dan tujuan dalam mencapai kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat. Namun dalam proses mencapai hal tersebut kita slalu dihadapi berbagai halangan dan godaan yang bersifat duniawi. Kita cukup sering melalaikan solat 5 waktu, melalaikan tugas, bermalas-malasan, bermain dan berwacana tanpa tindakan, dan kegiatan yang kurang berguna lainnya. Padahal dalam mencapai tujuan, visi, dan  misi kita diperlukan usaha yang maksimal dalam hidup kita yang hanya sementara ini di dunia. Namun bagaimana cara kita menahan godaan atas “surga” duniawi yang sangat mengenakan tersebut? Haruskah kita menjauhi kehidupan duniawi? Pergi ke gunung yang jauh dan hidup disana? Ga segitunya juga sih… Kita dapat bercermin kepada suatu bakteri. Hah? Kenapa bakteri? Yang kecil-kecil itu? Emang bisa apa bakteri? Malu dong masa niru yang dilakuin bakteri! Mungkin bisa dibilang begitu, tapi Allah menciptakan segala yang ada di dunia ini tanpa kekurangan apapun. Bakteri ini adalah Deinococcus radiodurans. Berikut adalah pemaparannya.

Kingdom          :           Bacteria
Phylum            :           Deinococcus-Thermus
Order              :           Deinococcales
Genus              :           Deinococcus
Species            :           D. radiodurans

Bakteri ini merupakan bakteri yang mampu bertahan dalam sebuah lingkungan ekstrim. Radiasi dengan tingkat 2200 Gy dimana manusia tak dapat bertahan sama sekali dapat dilaluinya dengan mudah (manusia mati pada radiasi 10Gy). Suhu yang rendah, kekurangan air, serta keadaan asam dapat dilaluinya menetapkan bakteri ini dalam Guiness Book of Record sebagai bakteri terkuat yang ada di masa ini. Meskipun bakteri ini sangat kuat tapi tidak bersifat pathogen. Bahkan bakteri ini sangat berguna sangat potensial dan membantu kehidupan manusia di bidang bioremediasi. Limbah radioaktif, logam-logam berat, dan senyawa kimia organik yang berbahaya dapat ditaklukannya. Selain itu, bakteri ini digunakan dalam penelitian penyembuhan kanker mengingat kanker sering disebabkan oleh radiasi dan berbagai logam berbahaya. Bagaimana bisa bakteri ini bertahan dalam situasi tersebut? Ketika terkena suatu radiasi, DNA organism akan rusak dan menyebabkan gangguan metabolisme hingga kematian. Namun bakteri ini dapat langsung memperbaiki DNA yang rusak itu dengan bantuan enzim RecA. Enzim ini dapat memperbaiki single strand dan double strand DNA. Selain itu susunan unik dari DNA yang dimiliki bakteri ini memainkan peranan penting dalam proses resistansi terhadap radiasi. Bakteri ini selalu berada dalam kondisi pasangan atau tetrads. Perbaikan DNA dapat difasilitasi oleh nukleoid yang berfusi dari kompartemen sebelahnya. Hal inilah yang menyebabkan homolog rekombinasi dapat dicapai. Selain itu, bakteri ini menggunakan manganese sebagai pelindungnya yang melindungi dari serangan radiasi. Radiasi dapat mengoksidasi protein, namun zat ini bersifat antioksidan melindungi bakteri ini.

Sebenarnya saya kurang memahami juga mekanisme yang lebih terperincinya. Namun dari beberapa fakta diatas kita dapat mengambil sebuah analogi. Enzim RecA merupakan ilmu keduniaan yang kita miliki, manganese adalah ilmu keagamaan kita, proses perbaikan DNA sebagai proses hidup kita, dan radiasi merupakan gangguan yang merusak kehidupan kita. Gambarannya, meski kita memiliki ilmu namun kita tidak melakukan proses dalam memanfaatkan ilmu tersebut kita tak akan dapat dapat bertahan dari serangan “radiasi” di kehidupan ini. Begitu pula dengan ilmu keagamaan kita. Setebal apapun ilmu agama kita, ketika ditembus meski hanya sebesar lubang jarum kita tidak dapat memperbaikinya tanpa disertai ilmu yang kita punya. Bahkan lubang itu dapat terus membesar jika kita diamkan. Dalam menghadapi semua “radiasi” dunia tersebut dibutuhkan keseimbangan antara ilmu keagamaan serta ilmu dunia. Namun hal ini juga diperlukan sebuah proses dalam menghadapi “radiasi” tersebut. Jika kita tidak mengaplikasikan semua ilmu yang kita peroleh tidak dimanfaatkan dengan baik, tentu tidak akan berguna. Kita pantas bercermin dari bakteri ini. Dengan semua modal yang dia punya, dia dapat memperbaiki kehidupan kita sebagai seorang manusia dalam menciptakan pengobatan yang lebih baik dan lingkungan yang lebih baik juga. Masa kalah sama bakteri? Mulailah pasang anggapan ini dalam diri kita. Tambahan terakhir adalah kerja sama. Bakteri tersebut selalu berada dalam keadaan pasangan. Dan keadaan tersebutlah yang sangat mendukung rekombinasi DNA nya. Kita pun tidak bisa sendirian dalam mewujudkan tujuan, misi, dan visi kita. Dengan berteman dengan orang yang sepaham dan memiliki tujuan yang sama dengan kita tentunya kita dapat menggapai keberhasilan dengan lebih mudah. Tapi bukan berarti kita hanya berteman dengan orang yang sepaham. Kita juga harus tetap melebarkan sayap persahabatan kita. Ahaha… Maaf atas kekurangan yang saya tulis dalam artikel ini karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, semoga artikel ini dapat membantu kita semua.

Pahlawan dalam Hidup

Oleh : Erlambang Aji (Mikrobiologi 2008)

Weits.. Artikel ini saya tulis setelah saya barhasil menonton film Sang Pemimpi. Kenapa saya menulis tentang pahlawan? Kenapa bukan tentang mimpi kita? Dari film tersebut saya belajar mengenai sebuah hal baru. Bagaimana peran seorang “pahlawan” dalam hidup kita agar dapat mewujudkan mimpi kita. Sekilas synopsis dari film tersebut. Haikal seorang anak dari sebuah daerah kecil yang belajar mengenai mimpi berkat seorang teman dekatnya yang bernama Arai. Arai adalah seorang anak yang tinggal disebuah hutan dan ditinggal mati oleh orang tuanya. Orant tua Haikal lalu merawat Arai seperti anaknya sendiri. Berbagai kenakalan dan hal-hal jenaka mengisi kehidupan mereka. Teman mereka di satu sekolah adalah Jimbron. Mereka selalu melewati kehidupan masa SMA nya bersama hingga suatu hari Arai dan Haikal memiliki mimpi untuk melihat dunia lebih luas. Mereka ingin menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana di kota dan melanjutkan pendidikan pasca sarjananya di luar negeri. Pahitnya kehidupan mereka lalui bersama dengan dukungan orang-orang disekitarnya dan orang tua mereka. Hingga akhirnya mereka berhasil lulus di sebuah universitas di kota dan melanjutkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Lalu? Dimana bagian pahlawannya? Oke saya ceritakan di paragraph selanjutnya.

Dari kisah ini saya belajar. Dalam hidup kita diperlukan sebuah mimpi. Mimpi besar yang bahkan jika kita bayangkan “Bisa gitu saya kaya gitu?”. Tak perlu kehidupan monoton yang tak bergerak dari hari ke hari dalam hidup kita ini. Namun dalam proses pencapaian mimpi ini, kita tak luput dari bantuan orang-orang yang berada di sekitar kita. Pernahkah kalian berfikir bagaimana nasib kalian saat tidak ada seorang pun yang mensupport sebuah harapan kita? Hmmmm…. Lalu apa hubungannya dengan pahlawan? Bagi saya, merekalah pahlawan dalam kehidupan saya. Mereka yang selalu berada dalam kehidupan saya, memberi dukungan, serta ada saat kita susah. Mereka adalah cahaya penerang dalam kehidupan ini. Waw.. Kata-katanya… Namun kita tetap tak bisa melupakan Allah dan Rasulallah. Allah-lah yang memberikan kita rahmat sehingga kita bisa bertemu mereka dan hidup bersama mereka. Rasulul-lah yang membimbing kehidupan kita di dunia ini agar berada di jalan yang lurus dan benar. Saya sangat bersyukur atas keberadaan semua orang yang berada di sekitar saya dan selalu membantu kita semua. Ahahaha… Hal ini merupakan pelajaran baru bagi saya dimana kita wajib melihat secara luas keadaan kita dan sekitar kita.

Ada 3 pelajaran lain yang saya dapat dari film ini. Yang pertama adalah keberadaan orang tua kita. Diajarkan dalam film tersebut bagaimana peran orang tua kita dalam membantu kita menyekolahkan, dan mendukung mimpi-mimpi kita. Bagi Haikal, ayahnyalah ayah terhebat di dunia. Namun bagi saya, ayah saya adalah ayah yang terhebat. Bagaimana dia bisa bekerja senin-minggu. Dengan istirahat yang tidak seberapa, kegiatan sehari-harinya selalu dipenuhi hal-hal untuk keluarganya dan sangat bermanfaat bagi dirinya. Pasti bagi kalian para pembaca akan merasa bagaimana peran ayah dan ibu kalian semua. Pelajaran kedua adalah peran Zakiah Nurmala untuk Arai. Adanya Zakiah memberi warna yang lebih cerah dalam kehidupan Arai. Arai mampu mengisi hari-harinya lebih serius dan mampu menjalani kehidupan sekolahnya dengan sukses tentu tak lupu dari peran gadis ini yang menjadi tambatan hatinya. Cieh… Ahahaha…. Dan yang terakhir adalah pesan yang disampaikan Haikal saat dikelasnya. “Jiwa muda adalah jiwa yang berapi-api”. Kenapa kita bisa diam saja dalam menjalani hidup ini? Kita masih muda dan kita wajib berapi-api dalam menjalani kehidupan ini. Ahahaha… Silahkan menyaksikan sendiri kehebatan film dari adaptasi novel Andrea Hirata ini. Two tumbs up buat beliau.

Punakawan: Rakyat Biasa yang Luar Biasa

Oleh : Lailatul Badriah (Biologi 2007)

Kembali nostalgia jaman ela masih kelas 5 SD (apa pas SMP ya…?). Dulu bapak sering banget ngajak ela nonton wayang (wayang orang atau kulit…) kalo ada tetangga yang punya hajat. Hwa…jadi kangen pingin nonton lagi…tapi skarang dah jarang tetangga yang nanggep wayang, dah nggak njamani katanya. Padahal, cerita dalam dunia perwayangan tu luar biasa…ada banyak makna dan hikmah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di jaman yang katanya modern. Istilahnya, pesan-pesan moral yang disampaikan itu ga ada matinya. Always inspired.

Tokoh wayang yang paling ela tunggu setiap kali nonton adalah para punakawan. Ada yang tahu?  He…yang suka nonton wayang Jawa pasti tau… Kata bapak, sebenernya di cerita yang asli (versi mitologi Hindu) tokoh punakawan itu ga ada. Mereka adalah tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa. Ho…ela ngefans banget sama mereka semua. Selain karena lucu…(make up sama gayanya tu lho…konyol..), mereka juga mencerminkan sosok manusia biasa (bukan siapa-siapa dan ga punya kekuasaan apapun) dengan segala kerendahhatian dan kecerdasan moral maupun akal yang luar biasa. Walaupun cuma rakyat biasa, tapi kata-kata yang diucapkan merupakan sentilan bagi manusia lain yang mengaku penguasa dan ksatria. Tingkah lakunya bukan hanya hiburan yang ringan dan segar, tapi juga menggaungkan kebenaran dan kebaikan.

Hey, kenalan dulu yuk sama mereka…

Gambar di atas tu versi wayang kulitnya. Nah, yang badannya endut  dan montok namanya Semar. Kata semar berasal dari bahasa arab Ismar yang artinya paku. Fungsi dari paku adalah sebagai suatu pengokoh. Dia adalah sosok yang dijadikan pengokoh terhadap kebenaran yang ada, selalu mencari kebenaran (bukan pembenaran…) terhadap segala masalah. Petuah-petuahnya selalu didengar, bahkan oleh dewa. Yang paling ela sukai dari Semar tu dia punya “hati” yang seluas badannya, lebih luas malah. Tokoh yang di belakangnya itu Gareng. Nama panjangnya Nala Gareng. Kata ini juga diadopsi dari bahasa arab, yaitu Naala Qariin yang artinya memperoleh banyak teman. Dia digambarkan sebagai sosok yang tidak pandai dalam berkata-kata, namun pemikiran-pemikirannya cerdas dan cerdik. Hm…sebenernya  ela masih bingung  hubungan antara arti nama dan karakternya….?! Yo wislah, lanjut dulu ya…. Tokoh yang tinggi dan kurus di belakang semar itu Petruk namanya.  Nah, kalo yang ini pandai berbicara namun ga sepintar Gareng. Paling sering mengumbar senyum dan katanya senyumnya menarik hati (he…lebih ke memancing tawa sebenernya… ^^). Kata orang-orang pinter, nama petruk itu diadaptasi dari kata Fatruk yang artinya tinggalkan semua apapun selain Allah. Wes, mantep ni artinya. Tokoh yang terakhir namanya Bagong. Nama ini berasal dari kata baghaa yang artinya berontak, yaitu berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan. Sosok Bagong memang digambarkan sebagai seorang yang mengkritisi permasalahan-permasalahan di negaranya dengan humor-humor yang cerdas. Mirip-mirip Semar sih, tapi yang ini lebih konyol.

Karakter keempat tokoh tersebut memang berbeda, namun mereka memiliki kesamaan yaitu sikap tulus dan ikhlas dalam menjalani hidup. Semar yang tidak gila kekuasaan walaupun sering dimintai petuah oleh para penguasa, Gareng yang tidak pernah mengeluh menjadi tokoh di balik layar dengan ide-idenya yang sering dijalankan orang lain, Petruk yang murah senyum walaupun sering disebut bodoh, dan Bagong yang tidak pernah berhenti melawan ketidakadilan walaupun sering dicerca oleh penguasa. Mereka adalah sosok-sosok yang selalu mengingat Sang Pemberi Hidup dan tidak pernah berhenti bersyukur.

Seandainya semua karakter bagus mereka terangkum dalam satu sosok, kayaknya akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Suatu sosok yang lucu, bijaksana, cerdas, pemberani, pandai berbicara namun tetap rendah hati dalam bersikap, murah senyum, tulus, berbaur dengan semua kalangan  dan selalu mencari kebenaran. Hwa…mantep ini…! Mungkin, sosok inilah “pahlawan” yang ditunggu dan dibutuhkan oleh Indonesia sekarang. Seorang pemimpin yang seperti Semar, si bijak yang kaya ilmu dan memiliki sumbangsih besar lewat petuah-petuah yang disampaikan. Seorang pemimpin yang memiliki karakter seperti Gareng dan Petruk, tokoh yang memiliki pemikiran-pemikiran luas, pandai, cerdik, dan pintar berbicara. Seorang pemimpin yang mencontoh sikap Bagong, selalu berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan. Dan pelengkap dari semua itu adalah seorang pemimpin yang rendah hati, tulus, dan bisa ngemong rakyatnya.

Kita semua juga bisa lho mencontoh sikap-sikap positif para punawakan tersebut. Emang sih, tidak ada manusia yang sempurna, tapi untuk menuju sesuatu yang mendekati sempurna itu harus terus diikhtiarkan. Apalagi, kita adalah hamba-hamba Allah yang senantiasai diberi nikmat dan kelebihan. Kita adalah generasi muda Indonesia yang akan membangun negeri ini menjadi lebih baik. (Insya Allah…^^)

Rektor Baru dan Harapan Defeodalisasi

Oleh : Gibran Huzaifah (Biologi 2007)

Setelah melalui berbagai tahapan pemilihan, rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2009-2014 telah terpilih. Adalah Prof. Dr. Akhmaloka, rektor terpilih yang menerima dukungan mutlak 19 suara dari total 27 suara yang ada. Segudang harapan hingga tuntutan mengalir deras ke rektor yang baru, tak lepas mahasiswa sebagai “rakyat” yang secara langsung berada dibawah naungan kepemimpinannya.

Kondisi hubungan antara mahasiswa dengan rektor di beberapa periode sebelumnya memang belum terlalu baik. Masih terlihat jelas adanya jurang yang menganga antara kebijakan rektorat dengan keinginan mahasiswa. Hal inilah yang secara konsekuensional membuncahkan harapan besar mahasiswa terhadap rektor terpilih.

Harapan mahasiswa tersebut dirangkum dalam delapan tuntutan yang sebelumnya secara sah telah ditandatangani oleh ketiga calon rektor. Tuntutan tersebut berkisar antara kebijakan pembinaan, fasilitas fisik, sinergi program, dana pendidikan-kemahasiswaan, hingga kualitas dan kuantitas dosen. Secara menyeluruh, tuntutan tersebut memang telah memenuhi kebutuhan mahasiswa dan teknis institusi. Namun, ada harapan yang belum tersampaikan, karena kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa budaya pendidikan institusional di ITB kembali ke dalam feodalisme primitif.

Feodalisme Institusi

Secara aktual, feodalisme di institusi pendidikan, dalam hal ini ITB, bukan merupakan  hal yang telah mengakar secara kokoh. Sebaliknya, fenomena ini adalah satu benih yang baru tersemai. Dinding feodalisme perlahan dan tanpa sadar mulai dibangun antara rektorat sebagai “penguasa” dengan mahasiswa sebagai “rakyat jelata”.

Beberapa fenomena yang mengindikasikan adanya feodalisme dalam institusi pendidikan ini dapat dilihat dari berubahnya kultur relasi antara rektorat, birokrat, dosen, dan mahasiswa. Hubungan antara rektorat dengan mahasiswa semakin kaku. Interaksi secara langsung dalam situasi informal yang dilakukan oleh rektorat atau dosen kepada mahasiswa pun semakin berkurang. Yang tersisa adalah pola-pola hubungan dalam garis formal dengan tembok batasan yang dibentangkan kokoh.

Penyalahgunaan wewenang dan terbatasnya komunikasi, sebagai salah satu ciri feodalisme, juga terjadi. Tenaga pengajar yang memiliki otoritas dalam menetapkan nilai bagi mahasiswa menyelewengkan haknya dengan bertindak semena-mena. Sikap angkuh yang mengarah ke feodal ditampakkan dengan dalih status dan posisi. Berbagai kebijakan rektorat yang menyentuh kepentingan mahasiswa ditetapkan tanpa ada komunikasi yang seimbang. Alhasil, muncul keputusan-keputusan yang serta-merta menimbulkan protes baik secara massif maupun pranata tertentu dalam konteks kemahasiswaan.

Feodalisme ini bisa berdampak negatif terhadap keberjalanan pendidikan di ITB. Adanya celah yang memberikan batasan hubungan di dalam institusi dapat menjadi retensi terhadap informasi dan nilai yang seharusnya disampaikan dalam proses pendidikan. Kegiatan pendidikan yang membutuhkan daya dukung dari berbagai komponen pun akan terganggu. Secara tidak langsung, hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kualitas mahasiswa yang merupakan luaran dari proses tersebut. Oleh karena itu, tembok feodalisme dalam pendidikan di kampus sudah seharusnya diruntuhkan, agar terselenggara proses pembinaan-pendidikan yang efektif dan dinamis.

Defeodalisasi

Dalam kepemimpinan yang baru, rektor sebagai pimpinan struktural diharapkan dapat mengejawantahkan kebijakan yang tidak berarah pada feodalisme. Sebagai pemimpin kultural, peran rektor dalam memberikan teladan yang hangat dan interaktif bisa mengembalikan martabat hubungan harmonis antara rektorat dengan mahasiswa.

Langkah sederhana, seperti reorientasi kebijakan dengan membuka akses komunukasi sebesar-besarnya terhadap kebijakan yang ada dapat menjadi alternatif awal. Atau, bahkan, tindakan kecil dengan secara intensif mengunjungi kampus tanpa hanya berkutat di dalam “istana” bisa jadi adalah tindakan yang konstruktif dalam budaya di dalam kampus ITB.

Rektor terpilih, Prof. Dr. Akhmaloka, disematkan harapan yang mulia, untuk berupaya mewujudkan defeodalisasi ITB. Harapannya, ITB bukan hanya mampu menjadi world class university yang berkebangsaan –seperti visi yang beliau bawa, tetapi juga berhasil menjadi insitusi yang bersahabat dan manusiawi. Namun, cita tersebut bukan hanya menjadi beban beliau, melainkan menjadi kewajiban kita semua untuk mewujudkannya bersama-sama.

Pahlawan dalam Hidupku

Oleh : Vilandri Astarini (mikrobiologi 2007)

Mungkin sebagian besar orang berpendapat bahwa pahlawan adalah seseorang yang berjuang melawan para penjajah atau yang memperjuangkan kemerdekaan.  Tetapi pada saat sekarang, mungkin sering kita dengar guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, memang itu semua benar dan Saya pun sependapat dengan  hal itu. Akan tetapi, pahlawan tidaklah harus bertempur di medan perang, juga tidak harus selalu menjadi guru. Menurut Saya, pahlawan adalah seseorang yang berjasa, yang dengan ikhlas berjuang dan berkorban untuk kita. Dan pahlawan yang paling berarti dalam hidup Saya adalah kedua orang tua Saya yang sejak Saya lahir atau bahkan sebelum Saya lahir, mereka terus berjuang untuk mempertahankan hidup Saya.

Ya, pahlawan yang paling berarti dalam hidup Saya adalah orang tua. Ibu yang menjaga Saya selama di dalam kandungan, Ayah yang dengan giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan Ibu yang kala itu sedang mengandung. Dan setelah Saya dilahirkan, beban kedua oran tua pun bertambah. Hingga saat ini entah seberapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh kedua oran tua Saya. Dan entah berapa banyak dosa yang telah Saya perbuat dan entah berapa banyak kesalahan yang membuat mereka sakit hati.

Betapa Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang yang telah memberikan rasa kasih dan sayang kepada setiap orang tua, hingga kasih sayang orang tua terhadap anaknya tidak pernah berubah dan berkurang sedikit pun. Betapa Allah SWT Maha Pemaaf yang telah membuat orang tua selalu memaafkan segala kesalahan yang telah dilakukan anaknya. Allah SWT pun telah memberikan kesabaran yang membuat orang tua tetap sabar menghadapi anak-anaknya yang mungkin sering membuat orang tua sakit hati dan lelah tetapi mereka tidak pernah mengeluhkan hal itu.

Betapa kasihannya orang tua kita yang pada malam hari meminta anaknya memijat punggung dan kakinya karena letih setelah bekerja seharian, tetapi sang anak menolaknya dengan mentah-mentah hanya karena tidak mau ketinggalan acara televisi favoritnya. Betapapun teganya anak tersebut, tetapi orang tua selalu memaklumi dan memaafkannya. Orang tua selalu memaafkan apapun kesalahan anaknya. Sebesar dan seberat apapun kesalahan yang dilakukan sang anak, orang tua pada akhirnya selalu memaafkan. Oleh karena itu, layaklah orang tua dijadikan pahlawan sepanjang hidup kita, bahkan mungkin kedudukannya lebih tinggi dibandingkan kata pahlawan itu sendiri.

Jadi, bagaimana cara kita membalas jasa dan pengorbanan kedua orang tua??sepertinya kebaikan apapun yang kita lakukan semasa hidup, tidak akan pernah cukup untuk membalas jasa kedua orang tua kita. Walaupun kau memberikan uang bermilyar-milyar, itu semua tidak akan sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan orang tua. Mungkin hanya bakti, cinta, doa, dan menjadi anak sholeh dan sholehah lah yang akan sedikit membalas budi kedua orang tua. Jadi, marilah kita berusaha menjadi anak yang berbakti pada orang tua sesuai dengan perintah Allah swt.

Untuk Calon Istriku

Oleh : Nur Isna (Biologi 2007)

Dapet postingan ini dari temen, bagus loh:)

Buat para ukhti, bersabarlah.. Allah pasti memberikan yang terbaik buat kita^^

*****

Assalammu’alaikum Wr… Wb…

Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care…
Allah selalu bersama kita

Ukhtiku…
Masihkah menungguku…?

Hm… menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!
Menunggu…
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang ‘istimewa’
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat

Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya,
melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,
atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati
Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong
Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari ‘dunia lain’ masuk ke jiwa

Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu
Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih
Ngejomblo itu nikmat. ^o^

Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif
Mumpung waktu kita masih banyak luang
Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga
Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak
Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak

Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang
Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda
Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit
Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber
Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini ’sarang tikus’
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini
Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit
Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik
Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri

Ukhtiku…
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah
Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu
Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang
Karena jalan ini masih panjang
Banyak hal yang menghadang
Hatiku pun melagu dalam nada angan
Seolah sedetik tiada tersisakan
Resah hati tak mampu kuhindarkan
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan
Karang asaku tiada ‘kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan
Keputusan besar untuk datang kepadamu

Ukhtiku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu
Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir
Yakinlah…saat itu pasti ‘kan tiba
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu
Karena kecantikan hati dan iman yang dicari
Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu
Karena aura keimananlah yang utama
Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,
merasuk dan menembus relung jiwa

Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.

Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil
Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup
Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu
Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu
Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya
Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,
sungguh…itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci
Dan kau terpilih menjadi Ainul Mardhiyah di jannah-Nya

Ukhtiku…
Skenario Allah adalah skenario terbaik
Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita
Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,
merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya
Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita

Ukhtiku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘kan menjelang jua
Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan
Apa kabarkah kau disana?
Lelahkah kau menungguku berkelana?
Lelahkah menungguku kau disana?
Bisa bertahankah kau disana?
Tetap bertahanlah kau disana…
Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu
Bila waktu itu telah tiba,
kenakanlah mahkota itu,
kenakanlah gaun indah itu…
Masih banyak yang harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…

Ukhtiku…
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir
Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,
kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang
Cinta membuat hati terasa terpotong-potong
Jika di sana ada bintang yang menghilang,
mataku berpendar mencari bintang yang datang
Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang…

Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat
Dan mendo’akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,
dan mendapat yang terbaik dari-Nya
Aku tak pernah berharap, kau ‘kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup
Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi
Akulah orang yang ‘kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu

Ukhtiku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,
hanya bisa merindukanmu
Dan tetaplah berharap, terus berharap
Berharap aku ‘kan segera datang
Jangan pernah berhenti berharap,
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup

Bila kau jadi istriku kelak,
jangan pernah berhenti memilikiku
dan mencintaiku hingga ujung waktu
Tunjukkan padaku kau ‘kan selalu mencintaiku
Hanya engkau yang aku harap
Telah lama kuharap hadirmu di sini
Meski sulit, harus kudapatkan
Jika tidak kudapat di dunia…
‘kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga

Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,
aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu
Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,
pelarian perasaanku
dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku
Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti…
Apa yang akan ku hadapi
Dan apa yang harus kucari dalam hidup

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu bijaksana
Aku goreskan syair sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu mempesona
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu
Semoga…

Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki