EMOSI

Oleh : Dicky Adihayyu Monconegoro (Biologi 2007)

Dalam mengatur emosi kadang terasa sangat sulit kadang tidak begitu mudah (intinya emang tidak mudah, hehehe..). Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Karena marah merupakan suatu wujud dari kekecewaan. Oleh karena itu, agama islam tidak mengharamkan kita untuk marah. Islam meminta kita agar menyalurkan kemarahan secara proporsional (pada waktu dan tempat yang pasti pas). Rasulullah saw sendiri sebagai teladan kita juga pernah marah kok. Namun, kemarahan beliau dibimbing oleh iman, sehingga beliau selalu proporsional dalam amarahnya. Misalnya, beliau marah kepada Washy (seorang mantan budak) yang telah membunuh pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau juga marah ketika mengetahui ada seorang sahabat yang mendapatkan gratifikasi ketika memungut pajak.

So, bukannya kita tidak boleh marah. Sok mangga silahkan marah, asalkan proporsional dan dibimbing oleh iman, bukan oleh hawa nafsu yang menggebu menguasai hati. Sebagian ulama mengatakan beberapa kategori yang membolehkan kita marah, yaitu :

–          Ketika agama dan simbol-simbol agama dihina atau dilecehkan

–          Ketika membela diri karena fitnah

–          Ketika harga diri dan kehormatan keluarga diinjak-injak

–          Ketika mempertahankan harta benda dari perampokan/pencurian

–          Ketika kebenaran diputarbalikkan menjadi kesalahan/kedustaan.

Ada pun kemarahan yang tidak berdasar dan di luar kategori di atas, maka sebaiknya kita perlu mengendalikannya dengan cara :

  1. Menurut sebuah hadist nabi, kalo kita marah dalam keadaan berdiri, so untuk meredam kemarahan sebaiknya kita duduk. Kalo marah dalam keadaan duduk, so untuk meredam kemarahan sebaiknya kita berbaring. Jika tetep we marah dalam keadaan berbaring, maka sebaiknya kita segera berwudhu (lalu sholat sunnah).
  2. Jangan langsung merespon kemarahan dengan hawa nafsu. Buat jeda (take a break) sebentar untuk berpikir dan merenung apakah kita layak marah atau tidak. Kalo masalahnya sepele dan ringan, sebaiknya tidak perlu kita menggunakan amarah. Jeda (break) tersebut juga berguna untuk membuat strategi marah kita. Misalnya, sejauh mana tingkat intensitas marah kita, argumentasi atau kata-kata yang akan dipilih, kapan waktu berhenti marah, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat marah kita tertata dengan rapi dan tidak hanya sekedar mengumbar emosi.
  3. Latih kesabaran dengan memperbanyak syukur dan merenung (muhasabah) tentang banyaknya nikmat allah kepada kita. Orang yang pemarah seringkali menunjukkan kepribadian yang kurang bersyukur.
  4. Lembutkan hati dengan banyak beribadah. Ibadah akan membuat hati lembut dan sabar, sehingga intensitas kemarahan juga akan menurun.
  5. Bergaullah dengan orang-orang yang hatinya lembut dan tidak pemarah sebagai tandingan dari lingkungan keras dan pemarah di sekeliling kita. Hal ini akan membuat kebiasaan suka marah kita akan berkurang.

Semoga kita semua dapat mengendalikan kemarahan. Sebab kemarahan yang tak terkontrol cenderung membuat diri kita stres dan hanya menambah dosa. “dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. 42 : 37).

One Response

  1. […] Emosi, Oleh: Dicky Adihayyu […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: