Suatu Kajian Terhadap Sisi Lain Kehidupan

Oleh: Falma Kemalasari (Biologi 2008)

Bicara tentang realita kehidupan jalanan, izinkan saya memulai dari realita yang ada di suatu tempat. Pasar Ciroyom. Ciroyom merupakan pasar induk yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan sehari – hari penduduk. Namun, bagi beberapa gelintir golongan, seperti anak – anak jalanan, pasar ini juga berfungsi sebagai tempat bernaung , tempat mencari nafkah, hingga tempat  menjalani kehidupan. Realita yang dapat diamati di sini mungkin mewakili realita yang dapat kita temui pada kehidupan anak jalanan di kota –kota besar lainnya. Banyaknya anak yang putus sekolah, bekerja sebagai pengamen, kuli angkut, pembersih gerbong kereta, dan peminta – minta, banyaknya anak yang terjerumus dalam penyalahgunaan inhalan (khususnya dengan media lem), serta banyaknya anak yang terpisah dari keluarganya pada tahap perkembangan psikologis yang masih sangat membutuhkan bimbingan orang tua, adalah beberapa realita permasalahan anak jalanan yang tercermin dari kehidupan mereka yang tinggal di Ciroyom.

Pada essay kali ini, saya ingin memfokuskan pembahasan pada masalah penyalahgunaan inhalan oleh anak – anak jalanan karena penggunaan inhalan yang tidak pada tempatnya ini akan memberi dampak yang dapat dirasakan seumur hidup mereka. Continue reading

Ramadhan dan Anak Jalanan

Oleh: Maliki Utama Putra (Biologi 2007)

Kedatangan bulan Ramadhan merupakan momen yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi seluruh umat muslim karena berbagai macam kebaikan yang ditawarkan di dalamnya. Hal tersebut turut dimanfaatkan oleh Lembaga Dakwah Mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dengan menyusun agenda yang terangkum sebagai proyek dengan sebutan “Peramal” atau Pelayanan Ramadhan Al-Hayaat. Salah satu agenda penting yang dijalankan berjudul “Ramadhan Dengan Mereka” (RDM)  yang melibatkan anak-anak di sekitar Pasar Ciroyom sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap realita masyarakat yang tersembunyi di balik gemerlap kehidupan perkotaan, khususnya di Kota Bandung. Continue reading

Catatan Ramadhan Dengan Mereka

Oleh: Dian Magfirah Hala (Biologi 2008)

Kawan, beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan ikut acara Ramadhan Bareng Mereka di Pasar Ciroyom Bandung bareng pengurus al Hayat ITB lainya. Acara apa sih?? Acara ini adalah agenda spesial ramadhan yang udah dirancang oleh al Hayat jauh hari untuk para pengurusnya. Merupakan acara buka puasa dan sahur bareng dengan anak-anak jalanan yang ada di  Pasar Ciroyom. Ngapain aja?? Berikut, saya akan coba menceritakan pengalaman semalam itu ma kalian. Semoga berguna,.. Continue reading

Wajah Sebuah Peradaban

Oleh : Angga Kusnan (Mikrobiologi 2007)

Selama ini mungkin kita tak memahami atau memang tidak mau memahami sama sekali. Disadari atau tidak seringkali kali mata kita tertutup –sengaja menutup- untuk memahami pesoalan yang ada diluar kita. Banyak persoalan sosial tetapi  hanya segelintir orang yang tahu dan mau tahu untuk memahami persoalan itu secara mendalam. Sebut saja persoalan yang akan saya kaji dalam tulisan ini.

Ciroyom, apa yang anda tahu ketika mendengar kata ini. Apakah sebuah pasar biasa layaknya pasar tradisional, ataukah sebuah stasiun transit di pinggiran Kota Bandung, atau juga sebuah terminal angkutan Umum biasa yang tergabung dengan pasar. Secara morfologi wilayah Ciroyom memang perwujudan dari ketiganya. Terminal, pasar, dan juga stasiun kereta api. Berperan sebagai pasar Ciroyom melakukan fungsinya sebagai salah satu penggerak peradaban dengan ciri Continue reading

1001 Kisah: Ciroyom dan Pernak-Perniknya

Oleh : Risha Amalia (Biologi 2008)

Waktu kecil (usia 4-12 tahun), apa makanan yang paling sering kamu makan? Cokelat, es krim, permen? Di mana biasanya kamu main? Taman, mall, sawah? Hmm.. Coba tanyakan kedua pertanyaan itu pada sekelompok anak-anak yang terbiasa dengan kehidupan jalanan, mungkin kita akan menemukan jawaban yang “istimewa”.

Sabtu, 5 September 2009, perkenalan pertama saya dengan sisi lain dunia kanak-kanak. “Ramadhan Bersama Mereka” menjadi acara yang membuka silaturrahim antara kita dengan adik-adik kita di Pasar Ciroyom. Continue reading

Mereka Juga Penerus Bangsa

Oleh : Nisfatin Mahardini (Biologi 2008)

Mereka punya potensi, karena itu mereka perlu tahu bahwa mereka juga bagian penting di masyarakat, mereka juga punya peran untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Jika Anda berkunjung ke Pasar Induk Ciroyom, Anda akan menemukan banyak anak usia sekolah yang berlarian di sela-sela kios milik pedagang sayuran dan buah sambil membawa kaleng lem aibon-yang isinya hampir mongering-di balik kaos-kaos kotor. Diantara mereka ada yang berprofesi sebagai kuli angkut barang dan pengamen jalanan. Namun sayangnya, hasil jerih payah bekerja seharian itu mereka habiskan bukan untuk makan atau kebutuhan pokok sehari-hari mereka, tapi untuk hal yang menurut logika sehat tidak bermanfaat sama sekali, untuk membeli lem. Membahas fenomena anak jalanan seperti berputar dalam lingkaran setan karena objek, subjek, penyebab, dan solusi permasalahan ini berkutat pada system kebijakan daerah dan pola pikir yang telah terbudaya pada individu di dalamnya mengenai pentingnya integritas pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading

Ironisme dan Kehidupan

Oleh : Gibran Huzaifah (Biologi 2007)

Obrolan Kita Dimeja Makan. Tentang Mereka Yang Kelaparan (Ethiopia, Iwan Fals)

Ada sebuah frasa yang menarik di dalam lagu Etiopia gubahan Iwan Fals di atas. Frasa tersebut mempresentasikan betapa ironisnya citra empati yang sering ditampilkan oleh kita di dalam keseharian. Empati mengapung, begitu penulis menyebutnya. Suatu tampilan jiwa empati yang hanya sekadar mengapung di permukaan. Ketika percakapan tentang kelamnya dasar laut menjadi hal yang lumrah sementara setiap detik yang dirasakan hanya sebatas zona tenteram yang kaya akan cahaya. Maka tabiat empati itu menjadi bias, tatkala obrolan tentang orang yang kelaparan dilangsungkan di tengah prosesi makan malam, karena pada dasarnya, kita tidak bisa benar-benar tahu bagaimana rasanya lapar sedangkan tadi baru saja makan kenyang.

Maka gagasan tentang empati yang menyeluruh inilah yang menjadi landasan dilangsungkannya acara ini. Continue reading

Belajar Dari Berbagi

Oleh : Soraya Mahani (Biologi 2007)

Berawal dari program yang terus-menerus tidak berjalan karena suatu alasan yang cukup dapat dimaklumi. Kami, Al-hayaat, akhirnya menyelenggarakan kegiatan ini. Kegiatan yang didasarkan atas kepedulian sosial yang berlangsung semalam di Bulan Suci Ramadhan, karena itu kami menamai kegiatan ini sebagai Ramadhan Dengan Mereka. Kegiatan ini berlangsung di Ciroyom, yaitu di rumah singgah sahaja. Targetnya adalah anak-anak jalanan yang tinggal di sekitar Ciroyom. Dengan berbekal makanan buka dan sahur, kami bekerjasama dengan kepala sekolah dan badan pengurus rumah singgah tersebut untuk mengumpulkan anak-anak jalanan dan dapat berbagi cerita bersama selama semalam.

Rumah singgah sahaja ini seperti gubug kios yang terletak ditengah-tengah pasar Ciroyom dan dekat dengan rel kereta api. Ukurannya hanya 2,5 x 3 meter dan Continue reading

Anak Jalanan dan Berjuta Persepsi

Oleh : Sidiq Pambudi (Biologi 2007)

Negatif (kurang ato apalah), itu dari dulu yang saya pikirkan kepada mereka. Baik itu dari gaya hidup, perilaku, pikiran, kebiasaan atau apalah yang ada hubungannya dengan mereka. Namun sambutan dan tegur sapa mereka yang hmmm,,, menurut saya hangat untuk orang-orang seperti mereka, cukup mengherankan. Selain itu saya tidak mendengar bahwa mereka dekat dengan hal-hal yang berbau kriminal seperti mencuri dll. Namun tidak jarang juga mereka ditindas/di ‘palak’ oleh sesamanya yang umurnya lebih tua.

Saat pertama datang saya bingung mereka ini mau diapakan oleh kalian, pikirnya sih Cuma buat buka, tidur + sahur bareng atau mungkin mengajarkan moral dan kebiasaan yang benar kepada mereka. Saya lihat jumlahnya mereka Continue reading

Anak jalanan dan Tuntutan Kepedulian

Oleh: Nadia Juli Indrani (Biologi 2007)

“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”

(Pasal 34 ayat 1 UUD 45)

Untaian kata-kata pada pasal 34 diatas pastinya sudah sering kita dengar saat guru-guru PPKN atau PMP atau apalah namanya sekarang mengajar di sekolah dasar. Yah sebuah kalimat “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” yang kenyataannya masih diragukan. Sabtu kemarin (5 September 2009) sebuah organisasi keislaman Al-Hayaat SITH ITB mengadakan sebuah acara buka dan sahur bersama anak-anak jalanan Ciroyom. Acara yang semula dikira biasa saja ini ternyata mengungkap sebuah fakta yang mengiris sanubari hati.

Saat pertama menjumpai anak-anak jalanan, kesan pertama yang ditimbulkan adalah mereka kotor, dekil, dan bau, bau tanah, bau keringat, dan bau lem. Lalu aku memasuki sebuah rumah kayu kecil yang aku kira itu sebuah rumah lesehan ternyata itu adalah sebuah rumah belajar, Rumah Belajar Sahaja. Di dalam rumah itu terlihat beberapa tumpukan buku dan sebuah papan tulis tempat sang pengajar dan para murid belajar, ternyata Continue reading

Sajak Untukmu

Oleh: Okta Noviantina (Biologi 2007)

Langkah kaki ini dibawaNya ke tempat itu. Sebuah peringatan, sebuah penyadaran nikmat yang dilupakan, sebuah kontemplasi tentang kehidupan. Semilir angin membawa bau yang kian tercekat. Segerombol anak duduk di tepian gundukan sampah, sambil bersenda gurau,tak hiraukan bau yang keluar dari gundukan sampah di sisi mereka. Ya, karena disanalah mereka hidup.

Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Pasar Ciroyom, masih menyisakan tempat untuk Continue reading

Anak Jalanan Ciroyom

Oleh : Dodi Ade Wahyu (Mikrobiologi 2008)

Pasar, selain sebagai tempat terjadinya transaksi jual beli ternyata juga menyimpan banyak realita mengenai kehidupan anak jalanan, diantaranya Pasar Ciroyom. Saat saya menemui anak jalanan di Pasar Ciroyom, di dalam hati saya bertanya-tanya darimana mereka berasal dan mengapa mereka bisa menjadi seperti itu.

Permasalahan anak jalanan ternyata cukup kompleks. Hal pertama yang akan kita perhatikan saat pertama bertemu mereka adalah kebiasaan “ngelem” mereka. Entah darimana kebiasaan ini bermula. Hampir semua anak jalanan ini terbiasa menghirup lem sejenis Aibon setiap harinya. Hampir semua, dari yang masih anak-anak sampai yang besar. Kebiasaan “ngelem” sudah menjadi Continue reading