Wajah Sebuah Peradaban

Oleh : Angga Kusnan (Mikrobiologi 2007)

Selama ini mungkin kita tak memahami atau memang tidak mau memahami sama sekali. Disadari atau tidak seringkali kali mata kita tertutup –sengaja menutup- untuk memahami pesoalan yang ada diluar kita. Banyak persoalan sosial tetapi  hanya segelintir orang yang tahu dan mau tahu untuk memahami persoalan itu secara mendalam. Sebut saja persoalan yang akan saya kaji dalam tulisan ini.

Ciroyom, apa yang anda tahu ketika mendengar kata ini. Apakah sebuah pasar biasa layaknya pasar tradisional, ataukah sebuah stasiun transit di pinggiran Kota Bandung, atau juga sebuah terminal angkutan Umum biasa yang tergabung dengan pasar. Secara morfologi wilayah Ciroyom memang perwujudan dari ketiganya. Terminal, pasar, dan juga stasiun kereta api. Berperan sebagai pasar Ciroyom melakukan fungsinya sebagai salah satu penggerak peradaban dengan ciri Continue reading

Advertisements

1001 Kisah: Ciroyom dan Pernak-Perniknya

Oleh : Risha Amalia (Biologi 2008)

Waktu kecil (usia 4-12 tahun), apa makanan yang paling sering kamu makan? Cokelat, es krim, permen? Di mana biasanya kamu main? Taman, mall, sawah? Hmm.. Coba tanyakan kedua pertanyaan itu pada sekelompok anak-anak yang terbiasa dengan kehidupan jalanan, mungkin kita akan menemukan jawaban yang “istimewa”.

Sabtu, 5 September 2009, perkenalan pertama saya dengan sisi lain dunia kanak-kanak. “Ramadhan Bersama Mereka” menjadi acara yang membuka silaturrahim antara kita dengan adik-adik kita di Pasar Ciroyom. Continue reading

Mereka Juga Penerus Bangsa

Oleh : Nisfatin Mahardini (Biologi 2008)

Mereka punya potensi, karena itu mereka perlu tahu bahwa mereka juga bagian penting di masyarakat, mereka juga punya peran untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Jika Anda berkunjung ke Pasar Induk Ciroyom, Anda akan menemukan banyak anak usia sekolah yang berlarian di sela-sela kios milik pedagang sayuran dan buah sambil membawa kaleng lem aibon-yang isinya hampir mongering-di balik kaos-kaos kotor. Diantara mereka ada yang berprofesi sebagai kuli angkut barang dan pengamen jalanan. Namun sayangnya, hasil jerih payah bekerja seharian itu mereka habiskan bukan untuk makan atau kebutuhan pokok sehari-hari mereka, tapi untuk hal yang menurut logika sehat tidak bermanfaat sama sekali, untuk membeli lem. Membahas fenomena anak jalanan seperti berputar dalam lingkaran setan karena objek, subjek, penyebab, dan solusi permasalahan ini berkutat pada system kebijakan daerah dan pola pikir yang telah terbudaya pada individu di dalamnya mengenai pentingnya integritas pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading

Ironisme dan Kehidupan

Oleh : Gibran Huzaifah (Biologi 2007)

Obrolan Kita Dimeja Makan. Tentang Mereka Yang Kelaparan (Ethiopia, Iwan Fals)

Ada sebuah frasa yang menarik di dalam lagu Etiopia gubahan Iwan Fals di atas. Frasa tersebut mempresentasikan betapa ironisnya citra empati yang sering ditampilkan oleh kita di dalam keseharian. Empati mengapung, begitu penulis menyebutnya. Suatu tampilan jiwa empati yang hanya sekadar mengapung di permukaan. Ketika percakapan tentang kelamnya dasar laut menjadi hal yang lumrah sementara setiap detik yang dirasakan hanya sebatas zona tenteram yang kaya akan cahaya. Maka tabiat empati itu menjadi bias, tatkala obrolan tentang orang yang kelaparan dilangsungkan di tengah prosesi makan malam, karena pada dasarnya, kita tidak bisa benar-benar tahu bagaimana rasanya lapar sedangkan tadi baru saja makan kenyang.

Maka gagasan tentang empati yang menyeluruh inilah yang menjadi landasan dilangsungkannya acara ini. Continue reading

Belajar Dari Berbagi

Oleh : Soraya Mahani (Biologi 2007)

Berawal dari program yang terus-menerus tidak berjalan karena suatu alasan yang cukup dapat dimaklumi. Kami, Al-hayaat, akhirnya menyelenggarakan kegiatan ini. Kegiatan yang didasarkan atas kepedulian sosial yang berlangsung semalam di Bulan Suci Ramadhan, karena itu kami menamai kegiatan ini sebagai Ramadhan Dengan Mereka. Kegiatan ini berlangsung di Ciroyom, yaitu di rumah singgah sahaja. Targetnya adalah anak-anak jalanan yang tinggal di sekitar Ciroyom. Dengan berbekal makanan buka dan sahur, kami bekerjasama dengan kepala sekolah dan badan pengurus rumah singgah tersebut untuk mengumpulkan anak-anak jalanan dan dapat berbagi cerita bersama selama semalam.

Rumah singgah sahaja ini seperti gubug kios yang terletak ditengah-tengah pasar Ciroyom dan dekat dengan rel kereta api. Ukurannya hanya 2,5 x 3 meter dan Continue reading

Anak Jalanan dan Berjuta Persepsi

Oleh : Sidiq Pambudi (Biologi 2007)

Negatif (kurang ato apalah), itu dari dulu yang saya pikirkan kepada mereka. Baik itu dari gaya hidup, perilaku, pikiran, kebiasaan atau apalah yang ada hubungannya dengan mereka. Namun sambutan dan tegur sapa mereka yang hmmm,,, menurut saya hangat untuk orang-orang seperti mereka, cukup mengherankan. Selain itu saya tidak mendengar bahwa mereka dekat dengan hal-hal yang berbau kriminal seperti mencuri dll. Namun tidak jarang juga mereka ditindas/di ‘palak’ oleh sesamanya yang umurnya lebih tua.

Saat pertama datang saya bingung mereka ini mau diapakan oleh kalian, pikirnya sih Cuma buat buka, tidur + sahur bareng atau mungkin mengajarkan moral dan kebiasaan yang benar kepada mereka. Saya lihat jumlahnya mereka Continue reading

Anak jalanan dan Tuntutan Kepedulian

Oleh: Nadia Juli Indrani (Biologi 2007)

“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”

(Pasal 34 ayat 1 UUD 45)

Untaian kata-kata pada pasal 34 diatas pastinya sudah sering kita dengar saat guru-guru PPKN atau PMP atau apalah namanya sekarang mengajar di sekolah dasar. Yah sebuah kalimat “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” yang kenyataannya masih diragukan. Sabtu kemarin (5 September 2009) sebuah organisasi keislaman Al-Hayaat SITH ITB mengadakan sebuah acara buka dan sahur bersama anak-anak jalanan Ciroyom. Acara yang semula dikira biasa saja ini ternyata mengungkap sebuah fakta yang mengiris sanubari hati.

Saat pertama menjumpai anak-anak jalanan, kesan pertama yang ditimbulkan adalah mereka kotor, dekil, dan bau, bau tanah, bau keringat, dan bau lem. Lalu aku memasuki sebuah rumah kayu kecil yang aku kira itu sebuah rumah lesehan ternyata itu adalah sebuah rumah belajar, Rumah Belajar Sahaja. Di dalam rumah itu terlihat beberapa tumpukan buku dan sebuah papan tulis tempat sang pengajar dan para murid belajar, ternyata Continue reading