1001 Kisah: Ciroyom dan Pernak-Perniknya

Oleh : Risha Amalia (Biologi 2008)

Waktu kecil (usia 4-12 tahun), apa makanan yang paling sering kamu makan? Cokelat, es krim, permen? Di mana biasanya kamu main? Taman, mall, sawah? Hmm.. Coba tanyakan kedua pertanyaan itu pada sekelompok anak-anak yang terbiasa dengan kehidupan jalanan, mungkin kita akan menemukan jawaban yang “istimewa”.

Sabtu, 5 September 2009, perkenalan pertama saya dengan sisi lain dunia kanak-kanak. “Ramadhan Bersama Mereka” menjadi acara yang membuka silaturrahim antara kita dengan adik-adik kita di Pasar Ciroyom.

Setelah menghadapi kemacetan yang cukup parah, akhirnya rombongan akhwat Al-Hayaat dan Dodi tiba di pasar Ciroyom. Turun dari angkot, kami berjalan kaki menuju Rumah Belajar anak-anak jalanan. Di sana kami disambut anak-anak, Ayah dan para Bunda (Pak Gamesh dkk). Subhanallah, di tengah hingar-bingar pasar (emangnya diskotik >_<) ternyata ada sebuah tempat yang menawarkan tempat singgah dan tempat belajar bagi anak-anak.

Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang. Kami berbuka puasa bersama dengan ta’jil yang sudah disiapkan oleh Mak. Kemudian dengan diantar seorang anak (Dini memanggilnya Nur), kami mencari masjid. Sambil menunggu yang lain selesai sholat, saya mengajak Nur berkenalan. “Kenalan, Ica”, saya mengulurkan tangan. Bukannya menyambut tangan saya, Nur malah cengengesan dengan tangan yang tetap memegang buntelan kaos. O-ow, apakah Nur ikhwan?? Ternyata eh ternyata, di balik buntelan kaos itu ada sesuatu yang disembunyikan.

Anak-anak itu tampaknya belum bisa lepas dari lem. Kata Kang Ramdhan, anak-anak bisa “ngelem” sampai 20 kaleng sehari. Ckckck.. apa kabar sistem respiratori mereka? Jika dikonversi ke dalam rupiah, 20 x Rp1500 = Rp30.000. Cukup untuk membeli makanan bergizi tiga kali sehari plus sabun mandi.

Saya sempat bertanya pada Nur, “kelas berapa?”. Dia menjawab, “kelas dua SMA”. Wah, luar biasa ternyata ada yang masih bisa sekolah. Di kesempatan lain saya mengajukan pertanyaan yang sama pada Nur, “kelas berapa?” dan Nur pun menjawab, “seharusnya kelas dua SMA.”

Selesai sholat, kami makan bersama di Rumah Belajar. Seorang gadis cilik, Evita namanya, membagi cilok isi telur pada seorang anak laki-laki (lupa namanya!!). Tak disangka,  anak laki-laki itu kemudian membagikan kembali potongan-potongan cilok ke yang lain! (Terima kasih adik-adik, kalian telah mengajari saya konsep “Terima-Kasih”).

Setahu saya, kami akan sholat isya dan taraweh berjamaah. Tapi entah kenapa sesampainya di madrasah kami malah langsung sharing dan heboh bermain bersama anak-anak. Sampai akhirnya Teh Ipit men-cut dan menyarankan untuk mengajak anak-anak sholat. Mengajak anak-anak wudhu membutuhkan kelincahan rupanya. Jangan sampai kita kalah lincah, kalah gesit dalam menangkap anak-anak yang malas wudhu. Saya jadi bertanya dalam hati, siapa yang selama ini memerhatikan wudhu dan sholat mereka?

Setelah sholat, kami membentuk lingkar wacana bersama anak-anak dan para Ayah-Bunda. Pak Gamesh berbagi cerita tentang asal-muasal anak-anak, keseharian mereka, dan banyak hal lagi.

Usai berbagi cerita, kami melaksanakan investigasi langsung ke pasar. Ternyata ada suatu tempat yang… amazing bagi saya, tempat yang lapang di mana saya bisa memandang bintang. Seolah kami dan langit sejarak lantai dengan atap rumah (lebay).   Di tempat itu ketahuanlah siapa yang narsis dan siapa yang tidak (dan semuanya narsis rupanya). Tak lama kemudian, potret-potret kami sudah ter-save di memori kameranya Dini.

Oh ya, Nur memetikkan saya sekuntum bunga lili putih!! Hmm.. wangi. Andai dia menyadari, bahwa wangi lili ini lebih sedap daripada lem aibon paling wangi sekalipun…

Malam semakin tua, sudah saatnya kami istirahat. Kami pun kembali ke madrasah. Akhwat bobo di dalam, ikhwan tidur di luar (begitu, kan? ^_^).

Dini hari kami bangun. Setelah sholat sunnah dan makan sahur, ceritanya mau ada muhasabah. Dipilihlah rel kereta api sebagai tempat muhasabah supaya feel-nya dapat (supaya merasa kita dan kematian begitu dekat mungkin). Muhasabah sesi pertama berlangsung syahdu dan baik-baik saja. Di saat muhasabah kedua, terjadilah sebuah moment yang menarik, bunyi peluit panjang kereta api membubarkan lingkaran muhasabah kami.  Akhirnya kami mengungsi ke pinggiran. Sayangnya bunyi peluit tadi sudah berhasil merusak flow. Sepuitis-puitisnya Ka Gib ternyata belum mampu mengembalikan kekhusyukan sesi pertama. ^o^v

Saya ternyata baru bisa menjadi narrator, belum mampu menjadi esensor apalagi solutor (lho?!)

Yang terpikir sih baru hal-hal berikut ini :

  1. Mereka harus sekolah formal

Saya tidak terlalu tahu kegiatan belajar mereka di Rubel seperti apa dan intensitasnya bagaimana.

Ini masukan dari ibu, sebaiknya anak-anak itu disekolahkan ke sekolah formal supaya mereka mendapatkan pendidikan secara lebih “profesional” dan mengurangi intensitas mereka bekerja di jalanan. Untuk anak-anak yang usianya sudah lewat, bisa dimasukkan ke program-program seperti paket A, B, atau paket C. bisa juga mereka dimasukkan dalam kursus-kursus keterampilan, seperti computer, bahasa, menjahit, memasak, de el el. Diharapkan nantinya mereka bisa bersosialisasi dengan anak-anak non-jalanan dan mendapat ijazah resmi.

Kendalanya adalah biaya, kesadaran mereka, dan ada tidaknya pihak yang mau mengurusi.

Berhubung biaya hidup dan biaya sekolah sudah meroket, anak-anak tersebut tentu saja membutuhkan bantuan dari pihak lain. Dari Dinas sosial misalnya (bisa nggak sih?), atau semacam GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh), atau dari kakak asuh (satu orang kakak membiayai satu orang adik). Lebih baik lagi kalau ada yang mau mengadopsi anak-anak itu. Intinya mah, angkat mereka dari jalanan we lah.

  1. Mereka harus dibiasakan menghargai uang.

Mungkin, sekali lagi mungkin, yang menyebabkan mereka kurang bersemangat mengubah diri adalah karena mereka berada di “zona nyaman”. Seperti kata Kamal, makan mereka disediakan, fasilitas lain juga diberikan membuat mereka jadi malas berusaha (nggak begitu juga sih). Yang saya pikirkan, makanan dan fasilitas lain tetap kita yang memberi, tapi mereka nggak mendapatkannya dengan Cuma-Cuma. Missal, mereka “membayar” makanan tersebut (tentu saja di-sangatmurah-kan). Nantinya uang itu ditabung untuk keperluan mereka juga. Nah masalahnya apakah mereka mengerti dan mau?

  1. Mengadakan kontes kecantikan dan ketampanan supaya mereka mau mandi, pakai sandal, dan wangi.

  1. Sering-sering lah kita menengok mereka, membantu Ayah dan Bunda mewarnai dunia kecil anak-anak Ciroyom.

—————————————————————————————————————————–

Pasar Ciroyom, kawasan yang tidak terlalu jauh dari ITB (hanya satu kali naik angkot jurusan Cicaheum-Ciroyom), menjadi saksi perkembangan jiwa-jiwa kecil generasi muda Indonesia. Anak-anak yang dalam kesehariannya berlarian dalam debu jalanan, teriakan pasar, gunungan sampah,.. mereka juga berhak menjadi batu-bata yang akan membangun peradaban dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: