Pahlawan dalam Hidupku

Oleh : Vilandri Astarini (mikrobiologi 2007)

Mungkin sebagian besar orang berpendapat bahwa pahlawan adalah seseorang yang berjuang melawan para penjajah atau yang memperjuangkan kemerdekaan.  Tetapi pada saat sekarang, mungkin sering kita dengar guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, memang itu semua benar dan Saya pun sependapat dengan  hal itu. Akan tetapi, pahlawan tidaklah harus bertempur di medan perang, juga tidak harus selalu menjadi guru. Menurut Saya, pahlawan adalah seseorang yang berjasa, yang dengan ikhlas berjuang dan berkorban untuk kita. Dan pahlawan yang paling berarti dalam hidup Saya adalah kedua orang tua Saya yang sejak Saya lahir atau bahkan sebelum Saya lahir, mereka terus berjuang untuk mempertahankan hidup Saya.

Ya, pahlawan yang paling berarti dalam hidup Saya adalah orang tua. Ibu yang menjaga Saya selama di dalam kandungan, Ayah yang dengan giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan Ibu yang kala itu sedang mengandung. Dan setelah Saya dilahirkan, beban kedua oran tua pun bertambah. Hingga saat ini entah seberapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh kedua oran tua Saya. Dan entah berapa banyak dosa yang telah Saya perbuat dan entah berapa banyak kesalahan yang membuat mereka sakit hati.

Betapa Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang yang telah memberikan rasa kasih dan sayang kepada setiap orang tua, hingga kasih sayang orang tua terhadap anaknya tidak pernah berubah dan berkurang sedikit pun. Betapa Allah SWT Maha Pemaaf yang telah membuat orang tua selalu memaafkan segala kesalahan yang telah dilakukan anaknya. Allah SWT pun telah memberikan kesabaran yang membuat orang tua tetap sabar menghadapi anak-anaknya yang mungkin sering membuat orang tua sakit hati dan lelah tetapi mereka tidak pernah mengeluhkan hal itu.

Betapa kasihannya orang tua kita yang pada malam hari meminta anaknya memijat punggung dan kakinya karena letih setelah bekerja seharian, tetapi sang anak menolaknya dengan mentah-mentah hanya karena tidak mau ketinggalan acara televisi favoritnya. Betapapun teganya anak tersebut, tetapi orang tua selalu memaklumi dan memaafkannya. Orang tua selalu memaafkan apapun kesalahan anaknya. Sebesar dan seberat apapun kesalahan yang dilakukan sang anak, orang tua pada akhirnya selalu memaafkan. Oleh karena itu, layaklah orang tua dijadikan pahlawan sepanjang hidup kita, bahkan mungkin kedudukannya lebih tinggi dibandingkan kata pahlawan itu sendiri.

Jadi, bagaimana cara kita membalas jasa dan pengorbanan kedua orang tua??sepertinya kebaikan apapun yang kita lakukan semasa hidup, tidak akan pernah cukup untuk membalas jasa kedua orang tua kita. Walaupun kau memberikan uang bermilyar-milyar, itu semua tidak akan sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan orang tua. Mungkin hanya bakti, cinta, doa, dan menjadi anak sholeh dan sholehah lah yang akan sedikit membalas budi kedua orang tua. Jadi, marilah kita berusaha menjadi anak yang berbakti pada orang tua sesuai dengan perintah Allah swt.

Untuk Calon Istriku

Oleh : Nur Isna (Biologi 2007)

Dapet postingan ini dari temen, bagus loh:)

Buat para ukhti, bersabarlah.. Allah pasti memberikan yang terbaik buat kita^^

*****

Assalammu’alaikum Wr… Wb…

Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care…
Allah selalu bersama kita

Ukhtiku…
Masihkah menungguku…?

Hm… menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!
Menunggu…
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang ‘istimewa’
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat

Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya,
melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,
atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati
Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong
Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari ‘dunia lain’ masuk ke jiwa

Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu
Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih
Ngejomblo itu nikmat. ^o^

Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif
Mumpung waktu kita masih banyak luang
Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga
Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak
Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak

Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang
Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda
Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit
Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber
Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini ’sarang tikus’
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini
Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit
Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik
Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri

Ukhtiku…
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah
Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu
Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang
Karena jalan ini masih panjang
Banyak hal yang menghadang
Hatiku pun melagu dalam nada angan
Seolah sedetik tiada tersisakan
Resah hati tak mampu kuhindarkan
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan
Karang asaku tiada ‘kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan
Keputusan besar untuk datang kepadamu

Ukhtiku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu
Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir
Yakinlah…saat itu pasti ‘kan tiba
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu
Karena kecantikan hati dan iman yang dicari
Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu
Karena aura keimananlah yang utama
Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,
merasuk dan menembus relung jiwa

Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.

Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil
Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup
Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu
Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu
Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya
Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,
sungguh…itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci
Dan kau terpilih menjadi Ainul Mardhiyah di jannah-Nya

Ukhtiku…
Skenario Allah adalah skenario terbaik
Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita
Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,
merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya
Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita

Ukhtiku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘kan menjelang jua
Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan
Apa kabarkah kau disana?
Lelahkah kau menungguku berkelana?
Lelahkah menungguku kau disana?
Bisa bertahankah kau disana?
Tetap bertahanlah kau disana…
Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu
Bila waktu itu telah tiba,
kenakanlah mahkota itu,
kenakanlah gaun indah itu…
Masih banyak yang harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…

Ukhtiku…
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir
Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,
kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang
Cinta membuat hati terasa terpotong-potong
Jika di sana ada bintang yang menghilang,
mataku berpendar mencari bintang yang datang
Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang…

Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat
Dan mendo’akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,
dan mendapat yang terbaik dari-Nya
Aku tak pernah berharap, kau ‘kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup
Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi
Akulah orang yang ‘kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu

Ukhtiku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,
hanya bisa merindukanmu
Dan tetaplah berharap, terus berharap
Berharap aku ‘kan segera datang
Jangan pernah berhenti berharap,
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup

Bila kau jadi istriku kelak,
jangan pernah berhenti memilikiku
dan mencintaiku hingga ujung waktu
Tunjukkan padaku kau ‘kan selalu mencintaiku
Hanya engkau yang aku harap
Telah lama kuharap hadirmu di sini
Meski sulit, harus kudapatkan
Jika tidak kudapat di dunia…
‘kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga

Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,
aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu
Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,
pelarian perasaanku
dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku
Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti…
Apa yang akan ku hadapi
Dan apa yang harus kucari dalam hidup

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu bijaksana
Aku goreskan syair sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu mempesona
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu
Semoga…

Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki

Tidur

Oleh : Maliki Utama (Biologi 2007)

Tidur merupakan fenomena kehidupan yang tidak dapat disepelekan. Dengan memperluas pengertian dari Tidur, kita dapat menyimpulkan bahwa tidur adalah hal yang mutlak bagi setiap mahluk-Nya. Tidur berkaitan dengan regulasi (pengaturan) sebagai suatu kriteria dalam membedakan antara mahluk hidup dengan yang lainnya sehingga hilangnya kemampuan ataupun kebutuhan untuk tidur akan menjauhkan suatu substansi dari kriterianya sebagai mahluk tersebut.

Tidur adalah kebutuhan primer bagi setiap mahluk hidup yang setiap kelompoknya memiliki perbedaan waktu, namun tetap dengan esensi yang sama yakni mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pada manusia, tidur bisa jadi seakan mengalami pergeseran tingkatan kebutuhannya menjadi lebih rendah. Hal tersebut dapat kita lihat dengan adanya relativitas waktu tidur antara orang yang satu dengan yang lainnya, ada yang mampu bertahan dengan kondisi terjaga dalam waktu yang lebih lama maupun sebaliknya. Akan tetapi, manusia tetap tak mampu menghalau keinginan lahiriahnya untuk tidur. Interval waktu yang dapat dipertahankan oleh manusia amatlah singkat sehingga ketika telah mencapai ambangnya, manusia akan tersungkur dari kondisi semulanya dengan apapun yang terjadi di sekelilingnya.

Kajian ilmiah mendefinisikan Tidur sebagai perstiwa yang dikenali dengan adanya penurunan aktivitas sensoris atau kepekaan dan motoris atau gerak. Di kala tidur, organ dan sistem dalam tubuh mereda, otot-otot akan mengalami pelonggaran, detak jantung melambat, dan berbagai bentuk perubahan fisiologis lainnya. Dengan masih terdapatnya respon terhadap stimulus dan sifat-sifat lainnya, tidur dapat dibedakan dengan fenomena lain yang hampir serupa yakni hibernasi dan koma.

Pada tidur dikenali adanya serangkaian tahapan yang menunjukkan keadaan seseorang sejak masih terjaga sampai dengan tertidur pulas. Para ilmuwan memahami fenomena tersebut dengan alat bantu yang lazim digunakan yakni electroencephalogram (EEG), suatu alat yang mampu merekam aktivitas elektrik pada otak dan diproyeksikan dalam bentuk gelombang otak (brain waves). Semakin tinggi aktivitas fisik dan mental seseorang, semakin cepat dan tidak beraturan gelombang yang dihasilkan. Hasil proyeksi tersebut kemudian membagi tahapan tidur menjadi dua bagian yakni Rapid Eye Movement (REM) dan Non-Rapid Eye Movement (NREM). REM mengisi 20%-25% dari keseluruhan waktu tidur dimana pada tahap ini mimpi dan aktivitas parapsikologis lainnya terjadi. Hasil rekaman EEG pada tahap REM menggambarkan adanya aktivitas elektrik pada otak yang hampir serupa dengan keadaan terjaga yakni dalam bentuk gelombang yang berosilasi dengan cepat dan tidak beraturan.

Tidur, dalam sudut pandang Islam, merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah kepada mahluk-Nya. Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), firman Allah dalam Al-Qur’an telah mengisyaratkan adanya rahasia dibalik pergantian waktu yang telah ditetapkan-Nya.

 

Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi. Sesungguhnya pada demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”. (QS. an-Naml: 86)

 

Sekian abad setelahnya, manusia baru menyadari adanya suatu ritme biologis yang berperan penting dalam pengaturan tidur seseorang. Ritme tersebut yang kemudian dalam studi lebih lanjut menjadi acuan dalam menjaga kualitas tidur terkait keseimbangan dan pengaturan antara waktu tidur dan terjaga.

Tidur merupakan kematian kecil. Beberapa dalil yang diperkuat dengan bukti ilmiah membuktikan bahwasanya sifat Tidur menjauhi keadaan terjaga walaupun tidak sangat identik dengan kematian. Pada puncak terlelapnya seseorang, ruh dan jasad akan kehilangan keterkaitannya secara alamiah sehingga segala macam aktivitas motorik yang ditimbulkan di kala tidur bukanlah hasil dari keinginan pribadi sebagaimana yang dilakukan seseorang di saat terjaganya.

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir” (QS. az-Zumar:42)

Ruh menduduki suatu dimensi yang tidak terbatas dan tidak terjangkau oleh manusia karena sifat manusia dengan kondisi lahiriahnya yang terbatas pada rasio atau probabilitasnya yang terkait ruang dan waktu. Dengan demikian, ruh memiliki kemampuan yang jangkauannya tidak dapat disentuh oleh akal pikir manusia, contohnya adalah kemampuannya untuk menerjemahkan tanda atau petunjuk ghaib seperti yang didapatinya pada mimpi.

Allah telah menjadikan tidur sebagai manfaat bagi mahluk-Nya. Dengan tidur, keteraturan dalam setiap aspek kehidupan akan tercipta. Tidur juga menjadi bukti nyata akan kebesaran Allah yang meliputi segala mahluk-Nya. Terlihat betapa lemahnya diri kita sebagai mahluk saat terlelap karena dengan kendali Allah-lah semua bergerak dan karena kehendak Allah-lah yang menjadikan kita berkehendak. Semoga dengan memahami makna tidur dalam hidup ini kita dapat semakin bijak dalam menata kehidupan, menghargai setiap waktu yang telah Allah berikan, serta semakin termotivasi dalam mengungkap hikmah dari segala peristiwa hidup yang telah Allah beri petunjuk di dalamnya.

Ati Segara (Hati Samudra)

Oleh : Lailatul Badriah (Biologi 2007)

Sepenggal dongeng waktu kecil….

Alkisah seorang santri di suatu pesantren sedang merenung dan berpikir di serambi mushola sehabis jamaah sholat Isya. Tiba-tiba Pak Ustad menghampiri dan bertanya, “ada apa anakku? Kenapa raut mukamu nampak sedih?”

“Iya ustad…saya sedang bingung…Kenapa Allah menimpakan banyak masalah pada keluarga saya? Saya merasa beban hidup yang saya alami ini terlalu berat…”

Pak ustad tersenyum mendengar pengakuan santrinya. Kemudian beliau berkata, “Kalau seandainya kamu memiliki satu gelas kecil air, kemudian kamu tambahkan ke dalamnya 2 sendok garam…kira-kira rasanya seperti apa?”

Si santri bingung mendengar pertanyaan dari ustad, tapi kemudian ia menjawab, “asin ustad…tapi… apa hubungannya dengan masalah yang saya hadapi?”

Pak ustad kembali tersenyum dan memberikan pertanyaan lagi, “kalau seandainya danau yang ada di dekat pesantren kita ini kamu tambahkan ke dalamnya 2 sendok garam, apakah rasanya juga akan asin?”

“He…ustad suka bercanda…jelas tidak akan asin, air di danau itu sangat banyak…sedangkan garam yang saya masukkan hanya 2 sendok, terlalu sedikit untuk membuat air danau menjadi asin.” jawab si santri sambil tersenyum.

(Teks asli dalam bahasa Jawa…ini sudah diterjemahkan, he…)

……………………………………………………………………………………………………………………………………………

Dulu bapak sering ngasih cerita itu kalo ela lagi nggrundel (mengeluh) ketika menghadapi masalah (pas lagi berantem sama sodara, ga bisa ngerjain pr, dimarahin mama, ga dibeliin baju baru, and so on…he…). ela masih inget, bapak bilang begini, “Nduk, wong urip kuwi ra bakal iso ucul seko masalah. Tergantung awake dhewe, piye le arep nanggepi. Digawe angel iso, digawe gampang, yo iso wae…manut pikirane dhewe-dhewe. Ndhuwea ati sing jembar kaya segara, ben pikiranmu ki padang…dadi iso ngadepi masalah kanti tenang, ora grasa-grusu…lak kepenak to? Nek atimu ki ciyut, masalah cilik we iso marakke stres…. masalah ning donya kuwi sakjane mung siji, yoiku nek awake dhewe ra iso nggawe ridhone Allah…masalah tenan kuwi…. Nek Allah ridho, yo wis kuwi ra dadi masalah….ho’o to nduk?

(tenang2, ni ada translatenya….” orang hidup itu tidak akan pernah lepas dari masalah. Tergantung bagaimana kita menanggapinya. Mau dibikin susah bisa, dibikin mudah juga bisa. Terserah pemikiran masing-masing. Milikilah hati yang luas seperti samudra, biar pikiran jadi jernih, sehingga bisa menghadapi masalah dengan tenang, tidak terburu-buru dan tertekan….enak kan? Kalo hatimu sempit, masalah kecil saja bisa bikin stres….masalah di dunia ini sebenarnya cuma satu, yaitu ketika kita tidak bisa membuat Allah ridho…kalau Allah ridho, ya sudah itu bukan masalah.”)

Hm…pernah baca buku Setengah Isi Setengah Kosong? Mungkin maksud cerita di atas hampir sama maknanya dengan judul buku ini. Gelas yang berisi air hanya setengahnya dapat dipandang isinya tinggal setengah…tapi juga bisa masih ada setengah. He…tapi kayaknya lebih enak dengar “masih ada setengah ni…”. Ada suatu pengharapan di dalamnya dan itu akan menimbulkan sebuah semangat baru. Berat atau ringannya suatu masalah tergantung cara kita merespon. Terkadang masalah menjadi semakin rumit karena kita sendiri yang bikin rumit. Iya ga?

Seringkali kita bertanya, “kenapa sih aku dikasih masalah kayak gini?” Dan kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling menderita di dunia. Padahal, masalah yang sekarang sedang kita hadapi tu dah ada dalam skenario Allah. Allah memberikan masalah sepaket dengan solusinya. Dan bukan hal yang sulit bagi Allah untuk memudahkannya. Hanya saja, Allah ingin melihat seberapa besar kesungguhan kita dalam menghadapinya. Percaya deh, setelah hujan dan badai yang menimpa, akan ada pelangi indah yang muncul dan membuat kita tersenyum.

Dalam surat Al-Insyirah ayat 6 Allah berfirman bahwa sesungguhnya di dalam kesulitan itu ada kemudahan. Di dalam ayat tersebut sudah jelas bahwa di balik semua masalah yang Allah berikan selalu ada solusi dan hikmah yang akan kita peroleh jika kita mau mencarinya. Oleh karena itu, lapangkanlah hati kita seluas samudra, sehingga bisa menghadapi masalah dengan pikiran yag tenag, sabar , dan senantiasa berharap pada Dzat yang memegang hidup dan mati kita, Allah SWT. Amin…………

Semangat kawan-kawan……!!!!!

ZERO to HERO

Oleh : Elgi Firaz (Biologi 2008)

Untuk lebih lega dalam memandang dunia dan menempatkannya sesuai proporsinya, mari kita simak bagai mana Rasulullah menggambarkan dunia dalam berbagai hadist :

Dunia adalah setitik air di tengah lautan
Al Mustaurid bin Syaddad ra berkata, Rasullullah bersabda : “Tiada perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya ke dalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa.” (HR. Muslim)

Dunia lebih hina dari bangkai kambing kuper
Dari Jabir ra, Rasullullah bersabda : “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada bangkai kambing kuper dan cacat ini dalam pandangan kalian.” (HR. Muslim)

Dunia adalah penjara mukmin dan surga bagi kaum kafir
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Dunia adalah penjara bagi orang-orang mukmin dan surga bagi orang-orang kafir.” (HR. Muslim)

Dunia ibarat sayap nyamuk
Sahl bin Sa’ad As Sa’idy ra berkata, Rasullullah bersabda : “Andaikata dunia ini bernilai di sisi Allah sekedar sayap nyamuk, niscaya tidak akan diberikannya kepada orang kafir meski hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi)

Dunia ini terlaknat kecuali dzikrullah
Dari Abu Hurairah ra, saya mendengar Rasullullah bersabda : “ketahuilah bahwa dunia terkutuk dan semua yang ada di dalamnya terlaknat, kecuali dzikrullah dan segala apa yang serupa atau sederajat dengan itu, dan orang alim yang mengerti serta orang yang mempelajari.” (HR. Tirmidzi)

Hidup di dunia laksana Musafir
Ibnu Umar ra. berkata, Rasulullah memegang bahuku sembari berkata : “Jadiklah engkau di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang dalam perjalanan.” “Ibnu Umar sendir berkata, “Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah mengharap akan hidup sampai pagi. Dan jika kamu pada waktu pagi janganlah menantikan sore. Pergunakanlah masa sehat itu untuk bekal masa sakit, dan masa hidup untuk bekal kematian.” (HR. Bukhari)

zuhudlah terhadap dunia
Dari Abul Abbas Sahl bin Sa’ad As Sa-idiy ra, yang berkata, “seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, tunjukanlah kepadaku suatu amal yang jika aku lakukan maka aku dicintai oleh Allah dan manusia.” Nabi pun menjawab : “uhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintai dan zuhudlah terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain, niscaya setiap orang cinta kepadamu.” (HR. Ibnu Majah, dan lainnya, hadist hasan)

Menatap orang yang berada di bawahnya
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah bersabda : “Lihatlah orang yang lebih menderita yang berada di bawahmu, dan janganlah melihat orang yang berada di atasmu, karena demikian itu lebih baik tepat, supaya orang tidak meremehkan nikmat karunia Allah kepadamu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Siapkan bekal kematian
Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra, berkata Rasulullah bersabda : “Orang yang cerdas adalah orang yang mengkoreksi dirinya dan mempersiapkan amal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang bodoh adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Menjadi Muslim Tahan Banting

Oleh : Guess who (Biologi 2008)

Waktu berlalu tak kembali, menggerus apapun yang ada dihadapannya. Kebahagian bagi mereka yang beruntung melewatinya.

Kesedihan bagi mereka yang merugi melewatinya.

Demi masa,

Sungguh manusia berada dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Al ’Asr: 1-3)

Hari ini Laporan, besok laporan 2, laporan 3, lusa Ujian, besoknya lagi tugas, unit, eksternal, deadline kerja, janji satu, janji dua, rapat, dll. Begitu banyak hal yang harus kita lakukan begitu banyak hal yang menyita waktu kita, begitu banyak hal yang memeras keringat dan otak kita. Ya Hidup tidaklah mudah kawan, terlebih jika kita ingin tidak rugi di dunia ini. Kita harus kuat, semangat, tidak malas, rajin beramal dan bermental kuat.

Rasa tak berdaya dan malas adalah salah satu musuh terbesar bagi manusia, kedua rasa ini juga merupakan perbuatan tercela, Rasulullah SAW selalu berlindung diri kepada Allah SWT dari rasa ini,

“Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tidak berdaya, malas, pengecut, pikun, pelit.” (Muttafaq Alaih)

Berlindung kepada Allah adalah solusi yang paling tepat, karena hanya dengan izin Allah kita dapat melawan rasa malas. Kita harus berjuang lebih untuk menggerakan otot-otot kita, membuka mata kita dan menyingkirkan rasa berat tubuh yang membebani kita. Setelah kita mampu bangkit maka lakukanlah yang terbaik yang dapat kita lakukan saat itu, jangan menunda, jangan berpaling dan jangan berlari.

Mario Teguh pernah berkata dalam motivasinya :

“ Jika Anda pandai menunda, lalu mengapa Anda tidak menunda, Penundaan Anda?”

Pekerjaan yang paling sulit memang melawan kemalasan, sangat sulit, tapi pasti bisa dilakukan. Pertanyaan berikutnya adalah jika saya telah bangkit, telah melawan malas, telah berusaha dengan optimal, telah berdoa, namun tetap gagal, apa yang harus saya lakukan?, mengapa itu bisa terjadi? Mengapa?, Mengapa?

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang muknin yang lemah, (akan tetapi) pada diri masing-masing ada kebaikan. Berambisilah selalu mengerjakan apa yang berguna bagimu dan mohonlah pertolongan pada Allah dan janganlah (menjadi orang yang) lemah. Apabila ada sesuatu menimpamu maka janganlah berkata: “Seandainya saja saya bertindak begini tentu hasilnya begini”, tetapi katakanlah: “Allah telah mentaqdirkan, dan apa saja yang dikehendaki pasti terjadi, karena Seandainya itu membuka pintu masuknya syetan. (HR Muslim)

(disunting dari Tarjamah Riyadhus Shalihin, hal 157)

Dari hadist di atas jelas disebutkan bahwa sebagai muslim, kita tidak boleh lemah, tak boleh mengeluh dan selalu memetik hikmah dibalik setiap peristiwa. Jangan pernah merasa sedih dan takut hanya karena masalah dunia, coba renungkan kembali Al Baqarah : 111-112.

Mari berjuang bersama-sama Saudaraku!!. Hidup masih panjang, masih ada esok, masih ada lusa, baik di dunia, baik di akhirat, sesungguhnya manusia akan kembali ke sisi-Nya.

Sejarah Bandung

Oleh : Dicky Adihayyu (Biologi 2007)

A. Sobana Hardjasaputra

Mengenai asal-usul nama “Bandung”, dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata ‘Bandung” dalam bahasa Sunda, identik dengan kata “banding” dalam bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabandeng (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata “Bandung” berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.

Pendapat lain mengatakan, bahwa kata “bandung” mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng adalah sebutan untuk genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi “Bandung”. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kata “Bandung” berasal dari kata “bendung”. Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata “Bandung” itu, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu). Akibatnya, daerah antara Padalarang hingga Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang (± 50 kilometer) terendam air menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan “Danau Bandung” atau “Danau Bandung Purba”. Berdasarkan basil penelitian geologi, air “Danau Bandung” diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 – 7000 s.M.). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.

Secara historis, kata atau nama “Bandung” mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten Bandung (sekitar dekade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan “Danau Bandung” terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.

BERDIRINYA KABUPATEN BANDUNG

Sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan “Tatar Ukur”. Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah daerah Kerajaan Timbanganten’ dengan ibukota di Tegalluar.2 Kerajaan itu berada di bawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun-temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan daerah yang disebut “Ukur Sasanga”.

Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan pasukan Banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608), dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak di sebelah barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh (sekarang bernama Ciamis).

Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Aria Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram sejak tahun 1620.5 Sejak itu status Sumedanglarang pun berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian barat terhadap kemungkinan serangan pasukan Banten clan atau Kompeni yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan konflik dengan Kesultanan Banten.
Untuk mengawasi wilayah Priangan, Sultan Agung mengangkat Raden Aria Suriadiwangsa rnenjadi “Bupati Wedana” (bupati kepala) di Priangan (1620 – 1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, terkenal dengan sebutan Rangga Gempol 1.6
Tahun 1624 Sultan Agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah Sampang (Madura). Oleh karena itu, jabatan “Bupati Wedana” Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol 1, yaitu Pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai bupati wedana, Sumedang diserang oleh pasukan Banten. Oleh karena sebagian pasukan Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gede tdak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, is menerima sanksi politis dari Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan “Bupati Wedana” Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat is hares dapat merebut Batavia dari kekuasaan Kompeni. Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia.7 Akan tetapi serangan itu mengalami kegagalan. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekuensi dari kegagalan itu is akan mendapat hukuman berat dari raja Mataram, misalnya hukuman seperti yang diterima oleh Pangeran Dipati Rangga Gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karena itu-Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap Mataram. Setelah penyerangan terhadap Kompeni gagal, mereka tidak datang ke Mataram melaporkan kegagalan tugasnya. Tindakan Dipati Ukur itu dianggap oleh pihak Mataram sebagai pemberontakan terhadap penguasa kerajaan Mataram. Terjadinya pembangkangan Dipati Ukur beserta para pengikutnya dimungkinkan, antara lain karena pihak Mataram sulit untuk mengawasi daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara pusat Kerajaan Mataram dengan daerah Priangan. Secara teoretis, bila daerah sangat jauh dari pusat kekuasaan, maka kekuasaan pusat di daerah itu sangat lemah. Namun demikian, berkat bantuan beberapa kepala daerah di Priangan, pihak Mataram akhimya dapat memadamkan “pemberontakan” Dipati Ukur.8 Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (daerah Bandung) pada tahun 1632′ Setelah “pemberontakan Dipati Ukur dianggap berakhir, Sultan Agung menyerahkan kembali jabatan Bupati Wedana Priangan kepada Pangeran Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya. Selanjutnya Sultan Agung mengadakan reorganisasi pernerintahan di Priangan, dengan tujuan untuk menstabilisasikan situasi dan kondisi daerah tersebut. Daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang, dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga orang kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas “pemberontakan” Dipati Ukur Ketiga orang kepala dimaksud adalah Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti, diangkat menjadi “mantri agung” (bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang dan Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan “Piagem Sultan Agung”, yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9 Muhararn Tahun Alip11 (penanggalan Jawa). Dengan demikian, tanggal 9 Muharam Taun Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupaten Bandung, tetapi sekaligus sebagai hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten ” Parakanmuncang.

Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di daerah Bandung terjadi perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah yang semula merupakan bagian (bawahan) dari pemerintah kerajaan (Kerajaan Sunda-Pajajaran kemudian Sumedanglarang) dengan status yang tidak jelas, berubah menjadi daerah dengan status administratif yang jelas, yaitu kabupaten.

Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung (naskah) menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumenggung Wiraangunangun beserta pengikutnya dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka datang ke Timbanganten. Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenggung Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungai Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, (daerah pinggiran Kabupaten Bandung bagian selatan) sebagai ibukota kabupaten. Sebagai daerah pusat Kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut “Bumi
Ukur Gede” .

Wilayah administratif Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram (hingga akhir abad ke-17), belum diketahui secara pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum ditemukan. Menurut sumber pribumi, pada tahap awal Kabupaten Bandung meliputi beberapa daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten, Kuripan, Sagaraherang, dan sebagianTanahmedang. Boleh jadi, daerah Priangan di luar wilayah Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura, dan Galuh, yang semula merupakan wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan wilayah administratif Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak, wilayahnya mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung, dan lain-lain, termasuk daerah Kuripan, Sagaraherang, dan Tanahmedang.

Oleh karena Kabupaten Bandung merupakan salah satu kabupaten bentukan pemerintah kerajaan (Mataram), dan berada di bawah pengaruh penguasa kerajaan tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung pun mewarisi sistem pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis simbol kebesaran, pengawal khusus, dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut kebesaran itu menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh bupati atas rakyatnya.

Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh pemilikan hak-hak istimewa yang biasa dimiliki oleh raja. Hak-hak dimaksud adalah hak mewariskan jabatan, hak memungut pajak dalam bentuk uang dan barang, hak memperoleh tenaga kerja (ngawula), hak berburu dan menangkap ikan, dan hak mengaditi.
Dengan sangat terbatasnya pengawasan langsung dari penguasa Mataram, maka tidaklah heran apabila waktu itu bupati Bandung khususnya dan bupati di Priangan umumnya berkuasa seperti raja.ls la berkuasa penuh atas rakyat dan daerahnya. Sistem pemerintahan dan gaga hidup bupati merupakan “miniatur” dari kehidupan keraton.16 Dalam menjalankan tugasnya, bupati dibantu oleh pejabatpejabat bawahannya, seperti patih, jaksa, penghulu, demang atau kepala cutak (kepala distrik), camat (pembantu kepala distrik), patinggi (lurah atau kepala desa), dan lain-lain.

Kabupaten Bandung berada di bawah pengaruh Mataram hingga akhir tahun 1677. Selanjutnya Kabupaten Bandung jatuh ke bawah kekuasaan Kompeni. Hal itu terjadi akibat perjanjian MataramKompeni (perjanjian pertama) tanggal 19-20 Oktober 1677.17 Di bawah kekuasaan Kompeni (1677-1799), bupati Bandung dan bupati lainnya di Priangan, tetap berkedudukan sebagai penguasa tertinggi di kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni. Sistem pemerintahan kabupaten pada dasamya hampir tidak mengalami perubahan, karena Kompeni hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni, dengan jaminan menjual hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC, dan bupati tidak boleh mengadakan hubungan politik dan dagang dengan pihak lain. Satu hal yang berubah adalah jabatan “bupati wedana” dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat Pangeran Aria Cirebon sebagai “pengawas” (opzigter) daerah Cirebon-Priangan (Cheribonsche Preangerlanden).

Salah satu kewajiban utama bupati terhadap Kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi, dan menyerahkan hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel. Sementara itu, bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai bawahan bupati tanpa pertimbangan “Bupati Kompeni” atau penguasa Kompeni di Cirebon .Agar bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut terakhir dengan baik, pengaruh bupati dalam bidang keagamaan, termasuk penghasilan dari bidang itu, seperti bagian zakat fltrah, tidak diganggu baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni .
Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC (akhir tahun 1779), Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten Bandung diperintah secara turun-temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung Wiraangunangun (merupakan bupati pertama (angkatan Mataram) yang memerintah hingga tahun 1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni, yaitu Tumenggung Ardikusumah (1681-1704), Tumenggung Anggadiredja 1 (1704-1747), Tumenggung Anggadiredja II (1747-1763), R. Anggadiredja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah 1(1763-1794), dan R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829).22 Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke Kota Bandung.

BERDIRINYA KOTA BANDUNG

Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II, kekuasaan Kompeni di Nusantara berakhir akibat VOC bangkrut (December 1799). Kekuasaan di Nusantara selanjutnya diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan gubernur jenderal pertama, Herman Willem Daendels23 (1808-1811).

Sejalan dengan perubahan kekuasaan di Hindia Belanda, situasi dan kondisi Kabupaten Bandung pun mengalami perubahan. Perubahan yang pertama kali terjadi adalah pemindahan ibukota kabupaten dari Krapyak di bagian selatan daerah Bandung ke Kota Bandung yang terletak.di bagian tengah wilayah kabupaten tersebut. Kapan kota itu berdiri dan bagaimana prosesnya, serta siapa pendirinya?
Antara Januari 1800 hingga akhir Desember 1807 di Nusantara umumnya dan di Pulau Jawa khususnya, terjadi vakum kekuasaan asing (penjajah), karena walaupun Gubemur Jenderal Kompeni masih ada, tetapi is sudah tidak memiliki kekuasaan. Bagi para bupati, selama vakum kekuasaan itu berarti hilangnya beban berupa kewajiban-kewajiban yang hams dipenuhi bagi kepentingan penguasa asing (penjajah). Dengan demikian, mereka dapat mencurahkan perhatian kepada kepentingan pemerintahan daerah masing-masing. Hal ini kiranya terjadi pula di Kabupaten Bandung.

Pada masa vakum kekuasaan itu, rupanya Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II menyadari, bahwa Krapyak sebagai ibukota kabupaten, lokasi dan kondisinya menimbulkan berbagai kendala bagi jalannya pemerintahan kabupaten. Krapyak sebagai ibukota kabupaten, lokasinya tidak strategis, karena tempat itu terletak di sisi bagian selatan daerah Kabupaten Bandung, sedangkan sebagian besar wilayah kabupaten berada di bagian utara Krapyak. Perjalanan dari Krapyak ke daerah-daerah lain masih sulit dilakukan, karena prasarana dan sarana transportasi belum menunjang. Sementara itu, bila musim hujan, daerah Krapyak merupakan daerah sasaran banjir akibat meluapnya air Sungai Citarum.24 Oleh karena itu, bupati merencanakan untuk memindahkan ibukota kabupaten ke tempat yang lebih baik dan strategis bagi pusat pemerintahan.

Sementara itu, Gubemur Jenderal H.W Daendels yang telah berkedudukan di Batavia, merencanakan untuk membangun Jalan – Raya Pos (Grote Postweg) dari Anyer ke Panarukan. Tujuan utama pembangunan jalan raya itu adalah untuk memperlancar komunikasi antardaerah dalam rangka mempertahankan Pulau Jawa dari kemungkinan serangan pasukan Inggris25 yang waktu itu sudah menduduki sebagian daerah India. Pelaksanaan pembangunan jalan raya dan sarana pelengkapnya diserahkan kepada para bupati di daerah-daerah yang dilintasi jalan itu. Para bupati melalui para kepala cutak (distrik) di daerah masing-masing mengerahkan rakyatnya untuk bekerja rodi memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada (jalan lama), atau membuka jalan barn yang dapat dilalui oleh kereta pos. Di daerah Kabupaten Bandung, jalan yang akan dibangun menjadi Jalan Raya Pos adalah jalan yang membentang dari Cihea di bagian barat sampai dengan Ujungberung Kaler di bagian timur laut, daerah perbatasan dengan Kabupaten Sumedang.26 Di bagian tengah daerah Bandung, jalan itu melintasi Sungai Cikapundung (Jalan Asia-Afrika sekarang). Rupanya rencana pembangunan jalan raya itu merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam mencari tempat untuk ibukota bare Kabupaten Bandung. Tempat yang terpilih karena dianggap memenuhi syarat adalah lahan di sebelah barat Sungai Cikapundung (pusat kota Bandung sekarang), tidak jauh dari jalan kecil yang akan dibangun menjadi Jalan Raya Pos. Tempat itu berjarak ± 11 kilometer dari Krapyak ke arah utara.

Menurut naskah Sadjarah Bandung (Koleksi Pleyte, PLT 6, P 119), pada tahun 1809(?)27 Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak ke daerah sebelah utara dari lahan bakal ibukota. Pada waktu itu lahan bakal kota Bandung masih berupa hutan, tetapi di sebelah utaranya sudah ada pemukiman, yaitu Kampung Cikapundung Kolot, Kampung Cikalintu,dan Kampung Bogor.

Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian is pindah ke Balubur Hilir. Ketika Daendels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung (jembatan di Jalan Asia-Afrika dekat gedung PLN sekarang), bupati Bandung berada di sana. ,Daendels bersama bupati melewati jembatan itu, kemudian mereka berjalan ke arah timur sampai di suatu tempat,29 (depan Kantor Dinas PU , Jalan Asia-Afrika sekarang). Di tempat itu Daendels menancapkan tongkat seraya berkata: “Zorg, dat als ik terug komhier een stad is gebouwd!” (“Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangup!”) .Rupanya Daendelsmenghendaki pusat kota Bandung dibangun di tempat itu.

Sebagai tindak lanjut dari ucapannya itu, Daendels meminta bupati Bandung dan Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos. Permintaan Daendels itu disampaikan melalui surat tanggal 25 Mei 1810 yang
berbunyi_ sebagai berikut :

25 Bloeimaand 1810
Verplatsing van de hoofd-negorijen
in de regentschappen Bandoeng en Prakanmoentjang

De landdrost der Jaccatrasche en Preanger bovenlanden hij missive hebbende to kennen gegeven, dat hem bij zijne jongste inspectie was to ooren gekomen, dat de hoofd-negorijen van Bandong en Praccanoentjang to verre van den nieuwen weg afgelegen waren, waardoor de werkzaamheden aan de postwegen als anderen sterk kwamen to lijden; met voordragt mitsdien om gedagte hoofd-negorijen to doen ver plaatsen, als die van Bandong naar Tjikapoendang en die van Praccanoentjang naar Andawadak, welke beide plaatsen aan den grooten weg gelegen en daartoe zeer ge-schikt waren; en consideerende, dat behalve de voor de genoemde verplaatsing op-gegeven, plausible redenen, daardoor sevens onderscheidene cultures zullen worden bevorderd, uithoofde van de bijzondere geschiktheid, welke daardoor de gronden hebben, die in de environs van de opgemelde, tot hoofdnegorijen voorgedragen plaatsen gelegen zijn; is conform de gedane voordragt besloten de hoofd-negorij van Bandong to doen verleggen naar Tjikapoendang en die van Praccamoentjang naar Andawadak, met autorisatie op den gedagten landdrost om hieraan to geven de noodige executie.
H.W. Daendels (Plakaatboek, XV, 1810)

Terjemahannya:
25 Mei 1810
Pemindahan Ibukota Kabupaten Bandung dan Parakanmuncang Setelah memberitahukan dengan surat kepada penguasa Jakarta dan daerah pedalaman Priangan, bahwa is telah mendengar ketika mengadakan inspeksi yang terakhir, bahwa ibukota Bandung dan Parakanmuncang terletak jauh dari jalan yang barn, sehingga pekerjaan pembuatan jalan itu terlambat, oleh karena itu diusulkan untuk memindahkan ibukota tersebut, yaitu (ibukota) Bandung ke Cikapundung dan (ibukota) Parakanmuncang ke Andawadak, kedua tempat itu terletak di jalan besar dan selain itu sangat cocok dan di samping pemindahan yang telah disebutkan juga mengenai beberapa tanaman-tanaman akan dapat ditingkatkan karena lahan yang diusulkan menjadi ibukota dan sekitamya sangat subur; bilamana keputusan usul mengenai pemindahan ibukota Bandung ke Cikapundung dan Parakanmuncang ke Andawadak tersebut diterima, mohon paduka memberikan otorisasi dan perintah yang harus dilaksanakan.
H.W. Daendels

Dalam hal pembangunan ibukota kabupaten, Bupati R.A. Wiranatakusumah II tidak memilih tempat yang ditunjuk oleh Daendels, karena bupati telah memilih tempat di sebelah barat Sungai Cikapundung. Tempat itu dianggap lebih memenuhi syarat, termasuk sprat menurut kepercayaan tradisional yang bersifat “mistik” dan letaknya tidak jauh dari tempat yang ditunjuk oleh Daendels. Mungkin pula pada waktu itu bupati Bandung sudah mengerahkan sebagian rakyatnya membuka hutan pada lahan bakal ibukota.

Sementara itu bupati Bandung pindah dari Balubur Hilir ke Kampung Bogor (daerah Kebon Kawung sekarang), tepatnya ke daerah sekttar Gedung Pakuan (Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat sekarang, dulu gedung keresidenan). Dari tempat itu bupati lebih mudah menuju lahan bakal ibukota baru yang sedang dibangun.

Naskah Sadjarah Bandung juga menyebutkan, bahwa Bupati RA. Wiranatakusumah II pindah ke Kota Bandung setelah ia menetap di tempat tinggal sementara selama dua setengah tahun, namun tidak ada penjelasan tentang tanggal, bulan, dan tahunnya. Dalam hubungan ini, Raden Asik Natanegara melalui tulisannya yang dimuat dalam Volks Almanak Soenda 1938 menginformasikan, bahwa pindahnya ibukota Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Kabupaten Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810.

Hal ini jelas tersurat dalam kalimat berikut (bahasa Sunda, ejaan diubah menjadi ejaan baru):
Kulmuaran aya jalan besar anyar bewzang ngahadean jeung ngagedean tea, dayeuh Bandung dipindahkeun ti Dayeuhkolot ka sisi jalan gede sin clkapundung, an dayeuh Parakanmuncang dipindah-keun ka KampungAnawedak. Ltq~rm’eun dipindahkeunana eta dua dayeuh, dins sabisluit – keneh tg. 25 September 1810 diangkat kana Patih parakanmuneang, Raden Suria, Patinggi Cipacing, ngaganti Raden Wirakusuma nu dilirenkeun lantaran kurang cakep jeung kedu. (Garis bawah dari peneliti).

(Dengan adanya jalan besar baru hasil perbaikan dan pelebaran, ibukota (Kabupaten) Bandung dipindahkan dari Dayeuhkolot ke dekat jalan besar di tepi Ci kapundung, sedangkan ibukota (Kabupaten) Parakanmuncang dipindabkan ke Kampung Anawedak. Bersamaan den an dipindahkannya kedua ibu-kota itu, dalam besluityapg sama tt. 25 September 1810 Raden Suria, Patinggi Cipacing, diangkat menjadi Patih parakanmuncang menggantikan Raden Wirakusuma yang diberhenti-kan karena kurang cakap dan malas). (Garis bawah dari penelitt).

Pernyataan tersebut jelas menunjukkan, bahwa tanggal 25 September 1810 adalah tanggal mulai berfungsinya KotaBandung sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung. Oleh karena tanggal itu adalah tanggal surat keputusan (besluit), maka secara yuridis formal (de jure) tanggal 25 September 1810 merupakan Hari Jadi Kota Bandung.
Boleh jadi bupati mulai berkedudukan di Kota Bandung setelah di sana terlebih dahulu berdiri bangunan pendopo kabupaten, walaupun konstruksi dan kondisi bangunan itu masih sangat sederhana dan terbuat dari kayu. Dapat dipastikan pendopo kabupaten merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Bandung.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung di bawah pimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa Bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung.

Tatakota Bandung dirancang berdasarkan pola kota tradisional dengan meniru kota kerajaan (kota istana). Hal itu ditunjukkan oleh ciri-cirinya, yaitu alun-alun sebagai pusat kota dengan pohon beringin di tengahnya, pendopo kabupaten, mesjid, dan “Bale Bandung” atau Balai Kota (stadhuis) yang biasa disebut juga”Paseban” atau `Babancong”3′). Bangunan-bangunan itu masing-masing dibangun di sebelah selatan, barat, dan utara dari alun-alun. Komponen lain yang melengkapi tatakota Bandung pada tahap awal adalah rumah bupati di sebelah timur alun-alun dan kepatihan di arah barat-daya dari alun-alun. Bangunan-bangunan itu merupakan bangunan tradisional, terbuat dari kayu dengan atap ijuk atau alang-alang. Di sekitar pendopo dibangun jalan kecil ditaburi batu kerikil dengan kikis (pagar bambu) di kiri-kanannya. Jalan itu disebut lulurung. Komponen lainnya adalah pintu gerbang atau gapura kota yang disebut kacakaca, yaitu dua pilar tembok tinggi (seperti segi tiga siku-siku) yang
dibangun di kiri-kanan jalan (De Haan, II, 1911: 699-700; De Wilde, 1830: 38-39 dan Coolsma, 1881: 109). Pintu gerbang ini dibangun di kiri-kanan Jalan Raya Pos di dua tempat, yakni di bagian barat

dan di bagian timur kota. Pintu gerbang bagian barat dibangun di daerah Andir sekarang (± 2 km dari ,Alun-alun ), disebut Kaca-kaca Kulon. Pintu gerbang bagian timur dibangun dekat jalan simpanglima sekarang (± 1,5 km dari Alun-alun), disebut Kaca-kaca Wetan. Kedua pintu gerbang tersebut dibangun di Jalan Raya Pos, karena pada waktu itu jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan utama untuk menuju Kota Bandung dari arah barat dan timur35.Kota Bandung dalam proses berdirinya sudah dicampuri kepentingan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, pada awal perkembangannya pun kota itu sudah diwarnai oleh komponen kota kolonial, yaitu penjara dan loji 36. Kedua bangunan ini terletak di sebelah utara alun-alun. Penjara tepatnya berlokasi di daerah Banceuy, sehingga penjara itu dikenal dengan nama Penjara Banceuy.

Pada awal berdirinya Kota Bandung baru memenuhi kriteria kota secara demografis yaitu wilayah tertentu tempat sekelompok orang atau penduduk dalam jumlah tertentu. Dalam istilah Sunda, tempat yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan disebut dayeuh, yang berarti “kota” dalam bahasa Indonesia. Kota dalam pengertian itulah yang diberikan kepada ibukota Kabupaten Bandung sebelum tempat itu benar-benar memenuhi kriteria kota.

PERKEMBANGAN KOTA BANDUNG

Pada abad ke-19, perkembangan Kota Bandung, terutama hingga pertengahan abad itu, berjalan sangat lambat. Dalam perkembangannya hingga awal abad ke-20, fungsi Kota Bandung yang cukup menonjol adalah sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, dan pusat pendidikan, khususnya untuk daerah Priangan, Jawa Barat.

Sejak berdirinya (1810) hingga pertengahan tahun 1864, fungsi utama KotaBandung adalah sebagai pusat pemerintahan Kabupaten _ Bandung di lingkungan Keresidenan Priangan yang beribukota di Cianjur. Selama itu pembangunan kota Bandung sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten yang bersangkutan. Tahun 1825 dibuat rencana pengembangan Kota Bandung yang disebut Plan pengembangan kota dibuat oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah U37 dan merupakan pets pertama Kota Bandung.

Peta itu menunjukkan luas wllayah Kota Bandung dengan Batas sebagai berikut: “Gedong Papak” (di Jalan Aceh Kantor Pemerintah Kota Bandung sekarang) merupakan batas kota sebelah utara, Sungai Cibadak (Kaca-kaca Kulon) batas sebelah barat, Jalan Pungkur sekarang batas sebelah selatan, dan daerah simpang lima sekarang (Kaca kaca Wetan) batas sebelah timur. Hal ini berarti pada tahun 1825 wilayah,KptaBandung masih kecil, dengan tataruang kota masih sederhana. Kondisi ini berlangsung hingga pertengahan abad Ke-19.

Pada tahun 1850 Bupati R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874) sebagai seorang arsitek merenovasi bangunan Pbndopo Kabupaten dan Masjid Agung Bandung. Bagian bawah kedua bangunan itu diganti dengan tembok batu dan atapnya diganti dengan genting. Di bagian belakang pendopo dibangun gedung tambahan. Sementara itu, di bagian barat kompleks pendopo dibangun rumah keluarga bupafi. Pada tahun yang sama dibangun kantor pengadilan dan bank umum.

Berkembangnya Kota Bandung dan letak strategis kota itu yang berada di bagian tengah Priangan, telah mendorong timbulnya gagasan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 untuk memindahkan ibukota Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung. Gaga-,an itu – karena berbagai hal – baru direalisasikan pada tahun 1864. Berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Agustus 1864 No. 18, Kota Bandung ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Priangan3′. Dengan demikian, sejak itu KotaBandung memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai ibukota Kabupaten Bandung sekaligus sebagai ibukota Keresidenan Priangan. Pada waktu itu yang menjadi bupati Bandung adalah R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874).

Sejalan dengan perkembangan fungsinya, di Kota Bandung dibangun gedung keresidenan di daerah Cicendo (sekarang menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Barat) dan sebuah hotel pemerintah. Gedung keresidenan selesai dibangun tahun 1867. Dalam pada itu, jalan jalan di dalam kota berangsur-angsur diperbaiki dan jalan ke luar kota pun bertambah banyak.

Perkembangan Kota Bandung terutama terjadi setelah transportasi kereta api beroperasi ke dari kota itu sejak tahun 1884, karena Kota Bandung berfungsi sebagai pusat kegiatan transportasi kereta api “lin Barat”41 Berlangsungnya transportasi kereta api telah mendorong berkembangnya kehidupan di Kota Bandung. Hal, itu antara lain ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun.

Pada penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa yang jumlahnya sudah mencapai ribuan, menuntut adanya lembaga otonom yang dapat mengurus kepentingan mereka. Sementara itu, pemerintah pusat menyadari kegagalan pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis berikut dampaknya. Oleh karena itu, pemerintah sampai pada kebijakan untuk mengganti sistem pemerintah dengan sistem desentralisasi, bukan hanya desentralisasi
dalam bidang keuangan, tetapi juga desentralisasi dalam pemberian hak otonomi bidang pemerintahan (zelfbestuur).

Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA. Martanagara (1893 1918) menyarnbut baik gagasan pemerintah kolonial tersebut. Berlangsungnya pemerintahan otonom di Kota Bandung, berarti pemerintah kabupaten mendapat dana-budget khusus dari pemerintah kolonial.yang sebelumnya tidak pernah ada.
Berdasarkan Undang-Undang Desentralisasi (Decentralisatiewet)
yang dikeluarkan tahun 1903 dan surat keputusan tentang desentralisasi (Decentralisasi Besluit) serta Ordonansi Dewan Lokal (Locale Raden Ordonantie) yang dibuat tahun 1905, Kota Bandung sejak tanggal 1 April 1906 ditetapkan sebagai gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonom .Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan kolonial Belanda di kota itu. Semula Gemeente Bandung dipimpin oleh Asisten Residen Priangan selaku ketua Dewan Kota (Gemeenteraad), tetapi sejak tahun 1913 gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota).

Pada awal kegiatannya, Pemerintah Gemeente Bandung menggunakan lantai atas gedung Percetakan NV Mij Vorkink (kemudian menjadi Toko Buku Sumur Bandung di Jalan Asia Afrika) sebagai kantor. Tidak lama kemudian, kantor Pemerintah Gemeente Bandung pindah ke “Gedong Papak’44, Kantor Pemerintah Kota Bandung sekarang (gedung lama).

BANDUNG SEBAGAI PUSAT PEREKONOMIAN

Sejak pertengahan abad ke-19, kegiatan perekonomian di Kota Bandung cukup berkembang. Kegiatan itu terutama terjadi di Pasar Baru sebagai pasar induk yang buka tiap hari, dan di warung-warung serta toko-toko sederhana yang berjumlah ratusan45). Sejalan dengan fungsinya sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Priangan (sejak 1864), Kota Bandung pun berkembang menjadi pusat perekonomian di Priangan. Hal itu terutama terjadi setelah keluamya UndangUndang Agraria (Agrarischewet) tahun 1870 dan Reorganisasi Priangan (Preanger Reorganisatie) tahun 1871. Akibat keluarnya Undang-Undang Agraria, banyak pengusaha Eropa yang membuka perkebunan (kina, teh, dan karet) di sekitarKotaBandung. Sementara itu, perkebunan kopi masih terus berlangsung, walaupun system “Tanam Paksa” (Kultuurstelsel dan Preangerstelsel) sudah dihapuskan sejak tahun 1870. Salah satu kebijakan dari Reorganisasi Priangan adalah dinaikkannya harga kopi dari f 10 tahun 1870 menjadi f 13 tahun 1871/1872, kemudian meningkat lagi menjadi f 14 pada tahuntahun berikutnya hingga tahun 1880-an. Dalam pada itu, para petani di sekitar Kota Bandung – karena beban kerja wajib berkurang dan pajak padi dihapuskan – dapat memproduksi hasil pertanian yang laku dijual (padi, jagung, kentang, buncis, kol, dll.).

Faktor-faktor tersebut telah menyebabkan meningkatnya kegiatan ekonomi perdagangan di Kota Bandung. Faktor lain yang menjadi penunjangnya adalah adanya transportasi yang memadai, yaitu kereta api, sehingga hasil-hasil pertanian dari daerah pedalaman mudah diangkut ke pusat kota untuk dipasarkan. Dalam hal ini, beras dari Priangan, termasuk dari Bandung sebagian dijual ke Batavia (Jakarta) dan Jawa Tengah. Tapioka dari Bandung sebagian besar dieksport ke Eropa. Kegiatan ekonomi perdagangan juga ditunjukkan oleh bertambahnya jumlah dan jenis toko di sekitar Alun-alun dan Jalan Braga. Sementara itu, di Kota Bandung pabrik-pabrik, antara lain pabrik kina di Cicendo (1896) dan pabrik es. Sampai dengan dekade pertama abad ke-20, Bandung merupakan produsen kina terbesar di dunia. Perkembangan ekonomi perdagangan di Kota Bandung ditunjukkan pula oleh berdiri dan berkembangnya toko-toko besar dan perusahaan-perusahaan dagang (firma) milik orang Belanda dan Cina.

BANDUNG SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN

Kehidupan pendidikan di Kota Bandung mulai menunjukkan perkembangan sejak berdirinya sekolah pendidikan calon guru pribumi, yaitu Hollandsch Inlandsche Kweekschool, disingkat HIK48. Sekolah ini didirikan hampir bersamaan dengan pembangunan gedung keresidenan (1864) dan dibuka tanggal 23 Mei 1866. HIK didirikan atas desakan beberapa tokoh masyarakat yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan pribumi, antara Raden Haji Muhammad Musa, Penghulu Kepala di l imbangan (Garut) dan K.F Holle, seorang humanis Belanda, sahabat R.H. Muhammad Musa, yang akrab bergaul dengan masyarakat Sunda. Sekolah tersebut berlokasi di Merdekaweg (Jalan Merdeka). Di kalangan masyarakat Sunda, sekolah tersebut dikenal dengan sebutan “Sakola Raja”.

Guru-guru keluaran HIK pada umumnya menjadi guru di sekolah-sekolah pribumi, bahkan ada pula yang menjadi “mantri guru” (hoofdondenmjzers) Sekolah Kelas Dua. Hal ini menyebabkan pendidikan bagi orang pribumi di Bandung khususnya dan di Jawa Barat umumnya semakin meningkat, karena hampir semua guru yang mengajar di sekolah-sekolah pribumi di Jawa Barat berasal dari HIK Bandung.

Tahun 1870 di daerah Kabupaten Bandung berdiri sekolah umum/ sekolah rakyat 51, satu di antaranya berdiri tidak jauh dari HIK ke sebelah utara52. Sekolah itu biasa digunakan sebagai tempat praktek mengajar murid-murid HIK Sementara itu, sejak pertengahan abad ke-19, beberapa buah sekolah pemerintah (untuk golongan Eropa) sudah berdiri di KotaBandung. Sekolah d imaksud adalah Europeesche Lagere School. Pada kurun waktu tahun 1871-1872, di Bandung, jumlah sekolah itu ditingkatkan.

Untuk memenuhi kebutuhan pegawai pribumi yang terdidik, pada tahun 1879 n daerah Yegallega dibangun Hoof denschoo), yaitu sekolah khusus untuk mendidik calon-calon pegawai pribumi tingkat menengah, sehingga sekolah itu disebut juga “Sekolah Pamongpraja”. Pada tahun 1900, sekolah itu berubah menjadi OSVIA (Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren = Sekolah Pendidikan Calon Pegawai Bumiputera). Masyarakat Sunda menyebutnya “Sakola Menak”, karena murid-muridnya terdiri atas anak-anak golongan menak, seperti bupati, patih, wedana, dan lain-lainT. Pada awal abad ke-20 berdiri sekolah khusus untuk wanita yang dirintis oleh Raden Dewi Sartika. Sekolah ini semula bertempat di kompleks pendopo, kemudian pindah ke Ciguriang55. Sarana pendidikan tersebut pada gilirannya mendorong berkembangnya kehidupan di KotaBandung, khususnya perkembangan bidang pendidikan, sehingga Kola Bandung menjadi pusat pendidikan di daerah Jawa Barat

Ketiga fungsi utama kota Bandung tersebut di atas, satu sama lain saling berkaitan dan saling menunjang. Sejalan dengan fungsi-fungsi kota itu, prasarana dan sarana/fasilitas kota terus berkembang, termasuk sarana hiburan-rel ieasi, sehinggaKotaBandung dijuluki “Kota Kern bang” dan kemudian “hrgs van Java” Semua itu telah menyebabkan terjadinya perubahan sosial, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.

Disadur dari Buku Sejarah Kota-Kota Lama Di Jawa Barat, Dr. Nina Lubis, M.S., dkk., 2000 & http://www.bandungheritage.org