Tidur

Oleh : Maliki Utama (Biologi 2007)

Tidur merupakan fenomena kehidupan yang tidak dapat disepelekan. Dengan memperluas pengertian dari Tidur, kita dapat menyimpulkan bahwa tidur adalah hal yang mutlak bagi setiap mahluk-Nya. Tidur berkaitan dengan regulasi (pengaturan) sebagai suatu kriteria dalam membedakan antara mahluk hidup dengan yang lainnya sehingga hilangnya kemampuan ataupun kebutuhan untuk tidur akan menjauhkan suatu substansi dari kriterianya sebagai mahluk tersebut.

Tidur adalah kebutuhan primer bagi setiap mahluk hidup yang setiap kelompoknya memiliki perbedaan waktu, namun tetap dengan esensi yang sama yakni mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pada manusia, tidur bisa jadi seakan mengalami pergeseran tingkatan kebutuhannya menjadi lebih rendah. Hal tersebut dapat kita lihat dengan adanya relativitas waktu tidur antara orang yang satu dengan yang lainnya, ada yang mampu bertahan dengan kondisi terjaga dalam waktu yang lebih lama maupun sebaliknya. Akan tetapi, manusia tetap tak mampu menghalau keinginan lahiriahnya untuk tidur. Interval waktu yang dapat dipertahankan oleh manusia amatlah singkat sehingga ketika telah mencapai ambangnya, manusia akan tersungkur dari kondisi semulanya dengan apapun yang terjadi di sekelilingnya.

Kajian ilmiah mendefinisikan Tidur sebagai perstiwa yang dikenali dengan adanya penurunan aktivitas sensoris atau kepekaan dan motoris atau gerak. Di kala tidur, organ dan sistem dalam tubuh mereda, otot-otot akan mengalami pelonggaran, detak jantung melambat, dan berbagai bentuk perubahan fisiologis lainnya. Dengan masih terdapatnya respon terhadap stimulus dan sifat-sifat lainnya, tidur dapat dibedakan dengan fenomena lain yang hampir serupa yakni hibernasi dan koma.

Pada tidur dikenali adanya serangkaian tahapan yang menunjukkan keadaan seseorang sejak masih terjaga sampai dengan tertidur pulas. Para ilmuwan memahami fenomena tersebut dengan alat bantu yang lazim digunakan yakni electroencephalogram (EEG), suatu alat yang mampu merekam aktivitas elektrik pada otak dan diproyeksikan dalam bentuk gelombang otak (brain waves). Semakin tinggi aktivitas fisik dan mental seseorang, semakin cepat dan tidak beraturan gelombang yang dihasilkan. Hasil proyeksi tersebut kemudian membagi tahapan tidur menjadi dua bagian yakni Rapid Eye Movement (REM) dan Non-Rapid Eye Movement (NREM). REM mengisi 20%-25% dari keseluruhan waktu tidur dimana pada tahap ini mimpi dan aktivitas parapsikologis lainnya terjadi. Hasil rekaman EEG pada tahap REM menggambarkan adanya aktivitas elektrik pada otak yang hampir serupa dengan keadaan terjaga yakni dalam bentuk gelombang yang berosilasi dengan cepat dan tidak beraturan.

Tidur, dalam sudut pandang Islam, merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah kepada mahluk-Nya. Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), firman Allah dalam Al-Qur’an telah mengisyaratkan adanya rahasia dibalik pergantian waktu yang telah ditetapkan-Nya.

 

Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi. Sesungguhnya pada demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”. (QS. an-Naml: 86)

 

Sekian abad setelahnya, manusia baru menyadari adanya suatu ritme biologis yang berperan penting dalam pengaturan tidur seseorang. Ritme tersebut yang kemudian dalam studi lebih lanjut menjadi acuan dalam menjaga kualitas tidur terkait keseimbangan dan pengaturan antara waktu tidur dan terjaga.

Tidur merupakan kematian kecil. Beberapa dalil yang diperkuat dengan bukti ilmiah membuktikan bahwasanya sifat Tidur menjauhi keadaan terjaga walaupun tidak sangat identik dengan kematian. Pada puncak terlelapnya seseorang, ruh dan jasad akan kehilangan keterkaitannya secara alamiah sehingga segala macam aktivitas motorik yang ditimbulkan di kala tidur bukanlah hasil dari keinginan pribadi sebagaimana yang dilakukan seseorang di saat terjaganya.

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir” (QS. az-Zumar:42)

Ruh menduduki suatu dimensi yang tidak terbatas dan tidak terjangkau oleh manusia karena sifat manusia dengan kondisi lahiriahnya yang terbatas pada rasio atau probabilitasnya yang terkait ruang dan waktu. Dengan demikian, ruh memiliki kemampuan yang jangkauannya tidak dapat disentuh oleh akal pikir manusia, contohnya adalah kemampuannya untuk menerjemahkan tanda atau petunjuk ghaib seperti yang didapatinya pada mimpi.

Allah telah menjadikan tidur sebagai manfaat bagi mahluk-Nya. Dengan tidur, keteraturan dalam setiap aspek kehidupan akan tercipta. Tidur juga menjadi bukti nyata akan kebesaran Allah yang meliputi segala mahluk-Nya. Terlihat betapa lemahnya diri kita sebagai mahluk saat terlelap karena dengan kendali Allah-lah semua bergerak dan karena kehendak Allah-lah yang menjadikan kita berkehendak. Semoga dengan memahami makna tidur dalam hidup ini kita dapat semakin bijak dalam menata kehidupan, menghargai setiap waktu yang telah Allah berikan, serta semakin termotivasi dalam mengungkap hikmah dari segala peristiwa hidup yang telah Allah beri petunjuk di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: