Menahan Godaan Duniawi

Oleh : Erlambang Aji (Mikrobiologi 2008)

Kita mengemban sebuah misi, visi, dan tujuan dalam mencapai kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat. Namun dalam proses mencapai hal tersebut kita slalu dihadapi berbagai halangan dan godaan yang bersifat duniawi. Kita cukup sering melalaikan solat 5 waktu, melalaikan tugas, bermalas-malasan, bermain dan berwacana tanpa tindakan, dan kegiatan yang kurang berguna lainnya. Padahal dalam mencapai tujuan, visi, dan  misi kita diperlukan usaha yang maksimal dalam hidup kita yang hanya sementara ini di dunia. Namun bagaimana cara kita menahan godaan atas “surga” duniawi yang sangat mengenakan tersebut? Haruskah kita menjauhi kehidupan duniawi? Pergi ke gunung yang jauh dan hidup disana? Ga segitunya juga sih… Kita dapat bercermin kepada suatu bakteri. Hah? Kenapa bakteri? Yang kecil-kecil itu? Emang bisa apa bakteri? Malu dong masa niru yang dilakuin bakteri! Mungkin bisa dibilang begitu, tapi Allah menciptakan segala yang ada di dunia ini tanpa kekurangan apapun. Bakteri ini adalah Deinococcus radiodurans. Berikut adalah pemaparannya.

Kingdom          :           Bacteria
Phylum            :           Deinococcus-Thermus
Order              :           Deinococcales
Genus              :           Deinococcus
Species            :           D. radiodurans

Bakteri ini merupakan bakteri yang mampu bertahan dalam sebuah lingkungan ekstrim. Radiasi dengan tingkat 2200 Gy dimana manusia tak dapat bertahan sama sekali dapat dilaluinya dengan mudah (manusia mati pada radiasi 10Gy). Suhu yang rendah, kekurangan air, serta keadaan asam dapat dilaluinya menetapkan bakteri ini dalam Guiness Book of Record sebagai bakteri terkuat yang ada di masa ini. Meskipun bakteri ini sangat kuat tapi tidak bersifat pathogen. Bahkan bakteri ini sangat berguna sangat potensial dan membantu kehidupan manusia di bidang bioremediasi. Limbah radioaktif, logam-logam berat, dan senyawa kimia organik yang berbahaya dapat ditaklukannya. Selain itu, bakteri ini digunakan dalam penelitian penyembuhan kanker mengingat kanker sering disebabkan oleh radiasi dan berbagai logam berbahaya. Bagaimana bisa bakteri ini bertahan dalam situasi tersebut? Ketika terkena suatu radiasi, DNA organism akan rusak dan menyebabkan gangguan metabolisme hingga kematian. Namun bakteri ini dapat langsung memperbaiki DNA yang rusak itu dengan bantuan enzim RecA. Enzim ini dapat memperbaiki single strand dan double strand DNA. Selain itu susunan unik dari DNA yang dimiliki bakteri ini memainkan peranan penting dalam proses resistansi terhadap radiasi. Bakteri ini selalu berada dalam kondisi pasangan atau tetrads. Perbaikan DNA dapat difasilitasi oleh nukleoid yang berfusi dari kompartemen sebelahnya. Hal inilah yang menyebabkan homolog rekombinasi dapat dicapai. Selain itu, bakteri ini menggunakan manganese sebagai pelindungnya yang melindungi dari serangan radiasi. Radiasi dapat mengoksidasi protein, namun zat ini bersifat antioksidan melindungi bakteri ini.

Sebenarnya saya kurang memahami juga mekanisme yang lebih terperincinya. Namun dari beberapa fakta diatas kita dapat mengambil sebuah analogi. Enzim RecA merupakan ilmu keduniaan yang kita miliki, manganese adalah ilmu keagamaan kita, proses perbaikan DNA sebagai proses hidup kita, dan radiasi merupakan gangguan yang merusak kehidupan kita. Gambarannya, meski kita memiliki ilmu namun kita tidak melakukan proses dalam memanfaatkan ilmu tersebut kita tak akan dapat dapat bertahan dari serangan “radiasi” di kehidupan ini. Begitu pula dengan ilmu keagamaan kita. Setebal apapun ilmu agama kita, ketika ditembus meski hanya sebesar lubang jarum kita tidak dapat memperbaikinya tanpa disertai ilmu yang kita punya. Bahkan lubang itu dapat terus membesar jika kita diamkan. Dalam menghadapi semua “radiasi” dunia tersebut dibutuhkan keseimbangan antara ilmu keagamaan serta ilmu dunia. Namun hal ini juga diperlukan sebuah proses dalam menghadapi “radiasi” tersebut. Jika kita tidak mengaplikasikan semua ilmu yang kita peroleh tidak dimanfaatkan dengan baik, tentu tidak akan berguna. Kita pantas bercermin dari bakteri ini. Dengan semua modal yang dia punya, dia dapat memperbaiki kehidupan kita sebagai seorang manusia dalam menciptakan pengobatan yang lebih baik dan lingkungan yang lebih baik juga. Masa kalah sama bakteri? Mulailah pasang anggapan ini dalam diri kita. Tambahan terakhir adalah kerja sama. Bakteri tersebut selalu berada dalam keadaan pasangan. Dan keadaan tersebutlah yang sangat mendukung rekombinasi DNA nya. Kita pun tidak bisa sendirian dalam mewujudkan tujuan, misi, dan visi kita. Dengan berteman dengan orang yang sepaham dan memiliki tujuan yang sama dengan kita tentunya kita dapat menggapai keberhasilan dengan lebih mudah. Tapi bukan berarti kita hanya berteman dengan orang yang sepaham. Kita juga harus tetap melebarkan sayap persahabatan kita. Ahaha… Maaf atas kekurangan yang saya tulis dalam artikel ini karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, semoga artikel ini dapat membantu kita semua.

Advertisements

Pahlawan dalam Hidup

Oleh : Erlambang Aji (Mikrobiologi 2008)

Weits.. Artikel ini saya tulis setelah saya barhasil menonton film Sang Pemimpi. Kenapa saya menulis tentang pahlawan? Kenapa bukan tentang mimpi kita? Dari film tersebut saya belajar mengenai sebuah hal baru. Bagaimana peran seorang “pahlawan” dalam hidup kita agar dapat mewujudkan mimpi kita. Sekilas synopsis dari film tersebut. Haikal seorang anak dari sebuah daerah kecil yang belajar mengenai mimpi berkat seorang teman dekatnya yang bernama Arai. Arai adalah seorang anak yang tinggal disebuah hutan dan ditinggal mati oleh orang tuanya. Orant tua Haikal lalu merawat Arai seperti anaknya sendiri. Berbagai kenakalan dan hal-hal jenaka mengisi kehidupan mereka. Teman mereka di satu sekolah adalah Jimbron. Mereka selalu melewati kehidupan masa SMA nya bersama hingga suatu hari Arai dan Haikal memiliki mimpi untuk melihat dunia lebih luas. Mereka ingin menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana di kota dan melanjutkan pendidikan pasca sarjananya di luar negeri. Pahitnya kehidupan mereka lalui bersama dengan dukungan orang-orang disekitarnya dan orang tua mereka. Hingga akhirnya mereka berhasil lulus di sebuah universitas di kota dan melanjutkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Lalu? Dimana bagian pahlawannya? Oke saya ceritakan di paragraph selanjutnya.

Dari kisah ini saya belajar. Dalam hidup kita diperlukan sebuah mimpi. Mimpi besar yang bahkan jika kita bayangkan “Bisa gitu saya kaya gitu?”. Tak perlu kehidupan monoton yang tak bergerak dari hari ke hari dalam hidup kita ini. Namun dalam proses pencapaian mimpi ini, kita tak luput dari bantuan orang-orang yang berada di sekitar kita. Pernahkah kalian berfikir bagaimana nasib kalian saat tidak ada seorang pun yang mensupport sebuah harapan kita? Hmmmm…. Lalu apa hubungannya dengan pahlawan? Bagi saya, merekalah pahlawan dalam kehidupan saya. Mereka yang selalu berada dalam kehidupan saya, memberi dukungan, serta ada saat kita susah. Mereka adalah cahaya penerang dalam kehidupan ini. Waw.. Kata-katanya… Namun kita tetap tak bisa melupakan Allah dan Rasulallah. Allah-lah yang memberikan kita rahmat sehingga kita bisa bertemu mereka dan hidup bersama mereka. Rasulul-lah yang membimbing kehidupan kita di dunia ini agar berada di jalan yang lurus dan benar. Saya sangat bersyukur atas keberadaan semua orang yang berada di sekitar saya dan selalu membantu kita semua. Ahahaha… Hal ini merupakan pelajaran baru bagi saya dimana kita wajib melihat secara luas keadaan kita dan sekitar kita.

Ada 3 pelajaran lain yang saya dapat dari film ini. Yang pertama adalah keberadaan orang tua kita. Diajarkan dalam film tersebut bagaimana peran orang tua kita dalam membantu kita menyekolahkan, dan mendukung mimpi-mimpi kita. Bagi Haikal, ayahnyalah ayah terhebat di dunia. Namun bagi saya, ayah saya adalah ayah yang terhebat. Bagaimana dia bisa bekerja senin-minggu. Dengan istirahat yang tidak seberapa, kegiatan sehari-harinya selalu dipenuhi hal-hal untuk keluarganya dan sangat bermanfaat bagi dirinya. Pasti bagi kalian para pembaca akan merasa bagaimana peran ayah dan ibu kalian semua. Pelajaran kedua adalah peran Zakiah Nurmala untuk Arai. Adanya Zakiah memberi warna yang lebih cerah dalam kehidupan Arai. Arai mampu mengisi hari-harinya lebih serius dan mampu menjalani kehidupan sekolahnya dengan sukses tentu tak lupu dari peran gadis ini yang menjadi tambatan hatinya. Cieh… Ahahaha…. Dan yang terakhir adalah pesan yang disampaikan Haikal saat dikelasnya. “Jiwa muda adalah jiwa yang berapi-api”. Kenapa kita bisa diam saja dalam menjalani hidup ini? Kita masih muda dan kita wajib berapi-api dalam menjalani kehidupan ini. Ahahaha… Silahkan menyaksikan sendiri kehebatan film dari adaptasi novel Andrea Hirata ini. Two tumbs up buat beliau.