Untuk Calon Istriku

Oleh : Nur Isna (Biologi 2007)

Dapet postingan ini dari temen, bagus loh:)

Buat para ukhti, bersabarlah.. Allah pasti memberikan yang terbaik buat kita^^

*****

Assalammu’alaikum Wr… Wb…

Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care…
Allah selalu bersama kita

Ukhtiku…
Masihkah menungguku…?

Hm… menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!
Menunggu…
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang ‘istimewa’
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat

Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya,
melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,
atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati
Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong
Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari ‘dunia lain’ masuk ke jiwa

Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu
Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih
Ngejomblo itu nikmat. ^o^

Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif
Mumpung waktu kita masih banyak luang
Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga
Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak
Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak

Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang
Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda
Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit
Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber
Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini ’sarang tikus’
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini
Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit
Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik
Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri

Ukhtiku…
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah
Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu
Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang
Karena jalan ini masih panjang
Banyak hal yang menghadang
Hatiku pun melagu dalam nada angan
Seolah sedetik tiada tersisakan
Resah hati tak mampu kuhindarkan
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan
Karang asaku tiada ‘kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan
Keputusan besar untuk datang kepadamu

Ukhtiku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu
Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir
Yakinlah…saat itu pasti ‘kan tiba
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu
Karena kecantikan hati dan iman yang dicari
Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu
Karena aura keimananlah yang utama
Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,
merasuk dan menembus relung jiwa

Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.

Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil
Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup
Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu
Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu
Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya
Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,
sungguh…itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci
Dan kau terpilih menjadi Ainul Mardhiyah di jannah-Nya

Ukhtiku…
Skenario Allah adalah skenario terbaik
Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita
Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,
merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya
Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita

Ukhtiku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘kan menjelang jua
Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan
Apa kabarkah kau disana?
Lelahkah kau menungguku berkelana?
Lelahkah menungguku kau disana?
Bisa bertahankah kau disana?
Tetap bertahanlah kau disana…
Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu
Bila waktu itu telah tiba,
kenakanlah mahkota itu,
kenakanlah gaun indah itu…
Masih banyak yang harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…

Ukhtiku…
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir
Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,
kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang
Cinta membuat hati terasa terpotong-potong
Jika di sana ada bintang yang menghilang,
mataku berpendar mencari bintang yang datang
Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang…

Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat
Dan mendo’akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,
dan mendapat yang terbaik dari-Nya
Aku tak pernah berharap, kau ‘kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup
Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi
Akulah orang yang ‘kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu

Ukhtiku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,
hanya bisa merindukanmu
Dan tetaplah berharap, terus berharap
Berharap aku ‘kan segera datang
Jangan pernah berhenti berharap,
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup

Bila kau jadi istriku kelak,
jangan pernah berhenti memilikiku
dan mencintaiku hingga ujung waktu
Tunjukkan padaku kau ‘kan selalu mencintaiku
Hanya engkau yang aku harap
Telah lama kuharap hadirmu di sini
Meski sulit, harus kudapatkan
Jika tidak kudapat di dunia…
‘kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga

Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,
aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu
Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,
pelarian perasaanku
dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku
Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti…
Apa yang akan ku hadapi
Dan apa yang harus kucari dalam hidup

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu bijaksana
Aku goreskan syair sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu mempesona
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu
Semoga…

Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki

Advertisements

Suatu Kajian Terhadap Sisi Lain Kehidupan

Oleh: Falma Kemalasari (Biologi 2008)

Bicara tentang realita kehidupan jalanan, izinkan saya memulai dari realita yang ada di suatu tempat. Pasar Ciroyom. Ciroyom merupakan pasar induk yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan sehari – hari penduduk. Namun, bagi beberapa gelintir golongan, seperti anak – anak jalanan, pasar ini juga berfungsi sebagai tempat bernaung , tempat mencari nafkah, hingga tempat  menjalani kehidupan. Realita yang dapat diamati di sini mungkin mewakili realita yang dapat kita temui pada kehidupan anak jalanan di kota –kota besar lainnya. Banyaknya anak yang putus sekolah, bekerja sebagai pengamen, kuli angkut, pembersih gerbong kereta, dan peminta – minta, banyaknya anak yang terjerumus dalam penyalahgunaan inhalan (khususnya dengan media lem), serta banyaknya anak yang terpisah dari keluarganya pada tahap perkembangan psikologis yang masih sangat membutuhkan bimbingan orang tua, adalah beberapa realita permasalahan anak jalanan yang tercermin dari kehidupan mereka yang tinggal di Ciroyom.

Pada essay kali ini, saya ingin memfokuskan pembahasan pada masalah penyalahgunaan inhalan oleh anak – anak jalanan karena penggunaan inhalan yang tidak pada tempatnya ini akan memberi dampak yang dapat dirasakan seumur hidup mereka. Continue reading

Ramadhan dan Anak Jalanan

Oleh: Maliki Utama Putra (Biologi 2007)

Kedatangan bulan Ramadhan merupakan momen yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi seluruh umat muslim karena berbagai macam kebaikan yang ditawarkan di dalamnya. Hal tersebut turut dimanfaatkan oleh Lembaga Dakwah Mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dengan menyusun agenda yang terangkum sebagai proyek dengan sebutan “Peramal” atau Pelayanan Ramadhan Al-Hayaat. Salah satu agenda penting yang dijalankan berjudul “Ramadhan Dengan Mereka” (RDM)  yang melibatkan anak-anak di sekitar Pasar Ciroyom sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap realita masyarakat yang tersembunyi di balik gemerlap kehidupan perkotaan, khususnya di Kota Bandung. Continue reading

Catatan Ramadhan Dengan Mereka

Oleh: Dian Magfirah Hala (Biologi 2008)

Kawan, beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan ikut acara Ramadhan Bareng Mereka di Pasar Ciroyom Bandung bareng pengurus al Hayat ITB lainya. Acara apa sih?? Acara ini adalah agenda spesial ramadhan yang udah dirancang oleh al Hayat jauh hari untuk para pengurusnya. Merupakan acara buka puasa dan sahur bareng dengan anak-anak jalanan yang ada di  Pasar Ciroyom. Ngapain aja?? Berikut, saya akan coba menceritakan pengalaman semalam itu ma kalian. Semoga berguna,.. Continue reading

Wajah Sebuah Peradaban

Oleh : Angga Kusnan (Mikrobiologi 2007)

Selama ini mungkin kita tak memahami atau memang tidak mau memahami sama sekali. Disadari atau tidak seringkali kali mata kita tertutup –sengaja menutup- untuk memahami pesoalan yang ada diluar kita. Banyak persoalan sosial tetapi  hanya segelintir orang yang tahu dan mau tahu untuk memahami persoalan itu secara mendalam. Sebut saja persoalan yang akan saya kaji dalam tulisan ini.

Ciroyom, apa yang anda tahu ketika mendengar kata ini. Apakah sebuah pasar biasa layaknya pasar tradisional, ataukah sebuah stasiun transit di pinggiran Kota Bandung, atau juga sebuah terminal angkutan Umum biasa yang tergabung dengan pasar. Secara morfologi wilayah Ciroyom memang perwujudan dari ketiganya. Terminal, pasar, dan juga stasiun kereta api. Berperan sebagai pasar Ciroyom melakukan fungsinya sebagai salah satu penggerak peradaban dengan ciri Continue reading

Mereka Juga Penerus Bangsa

Oleh : Nisfatin Mahardini (Biologi 2008)

Mereka punya potensi, karena itu mereka perlu tahu bahwa mereka juga bagian penting di masyarakat, mereka juga punya peran untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Jika Anda berkunjung ke Pasar Induk Ciroyom, Anda akan menemukan banyak anak usia sekolah yang berlarian di sela-sela kios milik pedagang sayuran dan buah sambil membawa kaleng lem aibon-yang isinya hampir mongering-di balik kaos-kaos kotor. Diantara mereka ada yang berprofesi sebagai kuli angkut barang dan pengamen jalanan. Namun sayangnya, hasil jerih payah bekerja seharian itu mereka habiskan bukan untuk makan atau kebutuhan pokok sehari-hari mereka, tapi untuk hal yang menurut logika sehat tidak bermanfaat sama sekali, untuk membeli lem. Membahas fenomena anak jalanan seperti berputar dalam lingkaran setan karena objek, subjek, penyebab, dan solusi permasalahan ini berkutat pada system kebijakan daerah dan pola pikir yang telah terbudaya pada individu di dalamnya mengenai pentingnya integritas pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading

Ironisme dan Kehidupan

Oleh : Gibran Huzaifah (Biologi 2007)

Obrolan Kita Dimeja Makan. Tentang Mereka Yang Kelaparan (Ethiopia, Iwan Fals)

Ada sebuah frasa yang menarik di dalam lagu Etiopia gubahan Iwan Fals di atas. Frasa tersebut mempresentasikan betapa ironisnya citra empati yang sering ditampilkan oleh kita di dalam keseharian. Empati mengapung, begitu penulis menyebutnya. Suatu tampilan jiwa empati yang hanya sekadar mengapung di permukaan. Ketika percakapan tentang kelamnya dasar laut menjadi hal yang lumrah sementara setiap detik yang dirasakan hanya sebatas zona tenteram yang kaya akan cahaya. Maka tabiat empati itu menjadi bias, tatkala obrolan tentang orang yang kelaparan dilangsungkan di tengah prosesi makan malam, karena pada dasarnya, kita tidak bisa benar-benar tahu bagaimana rasanya lapar sedangkan tadi baru saja makan kenyang.

Maka gagasan tentang empati yang menyeluruh inilah yang menjadi landasan dilangsungkannya acara ini. Continue reading