Tentang Sapa-Menyapa

Oleh : Pijar Riza (Biologi 2008)

Saya sedang berjalan menuju warnet langganan yang jauhnya beberapa blok dari rumah ketika berpapasan dengan dia. Wajahnya gak pernah berubah, semakin tua, namun rasanya tetap sama seperti ketika pertama kali saya melihatnya dulu (kalau tidak salah waktu SD). Dia masih menaiki sepeda yang sama, sepeda warna biru yang punya keranjang di depannya. Sepedanya pun masih oleng dengan cara yang sama. Semua orang di kompleks memanggil wanita itu “Mak”. Saya gak tahu nama aslinya siapa, saya juga memanggilnya dengan sebutan yang sama. Setau saya, Mak selalu dititipi uang (plus, plus) oleh orang-orang sekomplek yang terlalu sibuk untuk membayar tagihan listrik, air, atau telfon. Ibu saya sering sekali menggunakan jasa dari Mak, jadi saya cukup familiar dengan dia, dan sebaliknya. Namun akhir-akhir ini saya jarang ada di rumah (kampusku, rumahku), jadi sudah cukup jarang bertemu dengan Mak.

Oleh karena itu, ketika berpapasan dengan dia, saya menyempatkan diri untuk menyapa, sambil sedikit menundukkan kepala dan tersenyum simpul (baru level 3 bila dibandingkan dengan senyum Herafi yang level 10), Sundanese style.

Saya: “Mak…”
Mak: “…”

Saya pun berlalu, tak mengharapkan respon apa-apa karena memang cuma formalitas belaka. Budaya sunda menyarankan anak muda untuk menyapa bila berpapasan dengan orang yang lebih tua,sebagai tanda hormat, minimal sekedar “punten…” kalau kita tidak tahu namanya. Tapi tak diduga, beberapa detik setelahnya saya mendengar rem sepedanya berdecit keras. Saya menoleh, berat tubuh Mak ikut terlempar kedepan sebagai konsekuensi dari Hukum Newton 1 (Inersia, setiap objek akan mencoba mempertahankan posisinya selama tidak ada gaya lain yang mempengaruhi objek tersebut). Kakinya berpijak ke tanah untuk ikut membantu menjalankan fungsi rem sepedanya yang sudah kurang pakem (maklum, sepeda tua). Tiba-tiba, Mak berhenti dan menoleh ke arah saya.

Mak: “Eh, kamu, kamu, kamu teh anak si itu, ya? Bapak siapa, sih? Emmm…..” (Dia menyebut nama-nama orang yang nyerempet nama-nama ayah saya: Sapardi, Suparman, Brad Pitt, Arnold Schwarzenneger, Bruce Willis, dll.)
Saya: “Saya anak Pak Safari, Mak.”
Mak: “Pak Safari?”
Saya: “Suaminya Bu Tatin.”
Mak: “Waaaah…ncep, kasep pisan sekarang. Subhanallah…kelas berapa, sekarang cep? Eh, masih di pasantren yah?”
Saya: “Sudah kuliah, bu.”
Mak: “Ooooh…Iya? Di mana?”
Saya: “ITB”
Mak: “Hebaaaat, euy si Ncep. Nah gitu orang pinter, orang soleh mah nyapa ke orang tua, teh. Waah…meni kasep pisan, euy sekarang mah. Udah bujang, lagi…”

Saya hanya tersenyum (tapi level senyumannya naik karena saya senang habis dipuji ganteng). Saya sama sekali gak menyangka kalau sapaan sederhana yang diniatkan hanya untuk formalitas belaka bisa membuat Mak sangat senang. Mungkin, sapaan itu membuatnya merasa diingat, sesuatu yang mungkin sangat berarti bagi seseorang yang sudah berumur. Hanya sebuah sapaan, dan saya dibilang ganteng. Luar biasa. Dalam hati sedikit-sedikit saya berharap (atau lebih tepatnya berkhayal), kalau Mak bertemu dengan seorang ibu yang punya anak perempuan cantik lalu merekomendasikan saya sebagai calon menantu (saya senyum-senyum sendiri. Level 5). Hahahahaha…

Sebuah sapaan bukan hal yang besar, bukan hal yang sulit. Berapa, sih ATP yang harus dipecah oleh sel supaya kita bisa tersenyum dan mengucap “Hai…”? Saya rasa gak sebanyak ketika kita berlari sprint atau push-up, misalnya. Tapi ternyata sebuah sapaan bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang kita temui. Saya sendiri merasa senang kalau disapa, serasa dihargai karena telah ikut serta dalam minimal sebuah episode kehidupan orang lain. Agama Islam menganjurkan pada umatnya untuk saling menyapa bila bertemu. Bahkan secara tegas mengatakan kalau sebuah sapaan “Assalamualaikum” (semoga keselamatan untukmu) adalah hak dari muslim yang ditemui, dan oleh karena itu harus diucapkan. Kenapa? karena dalam sapaan, baik itu yang mendoakan keselamatan atau yang cuman sekedar memberitahu waktu (selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dsb), terdapat indikasi kepedulian kita terhadap orang lain. Dengan menyapa, kita secara tidak langsung menganggap orang lain memiliki peran yang berharga, bukan sekedar figuran.

Maka ayo mulai saling sapa-menyapa, apalagi kalau bertemu dengan jahim yang sama :-). Tak perlu high-five atau breakdance, cuman sebut namanya atau minimal cuman “Akang…” atau”Teteh…” aja kalo gak tau nama. Lambaikan tangan atau rendahkan kepala (kalau berpapasan sama orang yang lebih tua), dan jangan lupa, Senyum! Tuh, gak susah, kan?

Advertisements

Menjadi Muslim Tahan Banting

Oleh : Guess who (Biologi 2008)

Waktu berlalu tak kembali, menggerus apapun yang ada dihadapannya. Kebahagian bagi mereka yang beruntung melewatinya.

Kesedihan bagi mereka yang merugi melewatinya.

Demi masa,

Sungguh manusia berada dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Al ’Asr: 1-3)

Hari ini Laporan, besok laporan 2, laporan 3, lusa Ujian, besoknya lagi tugas, unit, eksternal, deadline kerja, janji satu, janji dua, rapat, dll. Begitu banyak hal yang harus kita lakukan begitu banyak hal yang menyita waktu kita, begitu banyak hal yang memeras keringat dan otak kita. Ya Hidup tidaklah mudah kawan, terlebih jika kita ingin tidak rugi di dunia ini. Kita harus kuat, semangat, tidak malas, rajin beramal dan bermental kuat.

Rasa tak berdaya dan malas adalah salah satu musuh terbesar bagi manusia, kedua rasa ini juga merupakan perbuatan tercela, Rasulullah SAW selalu berlindung diri kepada Allah SWT dari rasa ini,

“Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tidak berdaya, malas, pengecut, pikun, pelit.” (Muttafaq Alaih)

Berlindung kepada Allah adalah solusi yang paling tepat, karena hanya dengan izin Allah kita dapat melawan rasa malas. Kita harus berjuang lebih untuk menggerakan otot-otot kita, membuka mata kita dan menyingkirkan rasa berat tubuh yang membebani kita. Setelah kita mampu bangkit maka lakukanlah yang terbaik yang dapat kita lakukan saat itu, jangan menunda, jangan berpaling dan jangan berlari.

Mario Teguh pernah berkata dalam motivasinya :

“ Jika Anda pandai menunda, lalu mengapa Anda tidak menunda, Penundaan Anda?”

Pekerjaan yang paling sulit memang melawan kemalasan, sangat sulit, tapi pasti bisa dilakukan. Pertanyaan berikutnya adalah jika saya telah bangkit, telah melawan malas, telah berusaha dengan optimal, telah berdoa, namun tetap gagal, apa yang harus saya lakukan?, mengapa itu bisa terjadi? Mengapa?, Mengapa?

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang muknin yang lemah, (akan tetapi) pada diri masing-masing ada kebaikan. Berambisilah selalu mengerjakan apa yang berguna bagimu dan mohonlah pertolongan pada Allah dan janganlah (menjadi orang yang) lemah. Apabila ada sesuatu menimpamu maka janganlah berkata: “Seandainya saja saya bertindak begini tentu hasilnya begini”, tetapi katakanlah: “Allah telah mentaqdirkan, dan apa saja yang dikehendaki pasti terjadi, karena Seandainya itu membuka pintu masuknya syetan. (HR Muslim)

(disunting dari Tarjamah Riyadhus Shalihin, hal 157)

Dari hadist di atas jelas disebutkan bahwa sebagai muslim, kita tidak boleh lemah, tak boleh mengeluh dan selalu memetik hikmah dibalik setiap peristiwa. Jangan pernah merasa sedih dan takut hanya karena masalah dunia, coba renungkan kembali Al Baqarah : 111-112.

Mari berjuang bersama-sama Saudaraku!!. Hidup masih panjang, masih ada esok, masih ada lusa, baik di dunia, baik di akhirat, sesungguhnya manusia akan kembali ke sisi-Nya.

Kisah Pohon Apel

Oleh: Gema Puspa Sari (Biologi 2007)

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.
Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.
Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.
Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.
Dan yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Suatu Kajian Terhadap Sisi Lain Kehidupan

Oleh: Falma Kemalasari (Biologi 2008)

Bicara tentang realita kehidupan jalanan, izinkan saya memulai dari realita yang ada di suatu tempat. Pasar Ciroyom. Ciroyom merupakan pasar induk yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan sehari – hari penduduk. Namun, bagi beberapa gelintir golongan, seperti anak – anak jalanan, pasar ini juga berfungsi sebagai tempat bernaung , tempat mencari nafkah, hingga tempat  menjalani kehidupan. Realita yang dapat diamati di sini mungkin mewakili realita yang dapat kita temui pada kehidupan anak jalanan di kota –kota besar lainnya. Banyaknya anak yang putus sekolah, bekerja sebagai pengamen, kuli angkut, pembersih gerbong kereta, dan peminta – minta, banyaknya anak yang terjerumus dalam penyalahgunaan inhalan (khususnya dengan media lem), serta banyaknya anak yang terpisah dari keluarganya pada tahap perkembangan psikologis yang masih sangat membutuhkan bimbingan orang tua, adalah beberapa realita permasalahan anak jalanan yang tercermin dari kehidupan mereka yang tinggal di Ciroyom.

Pada essay kali ini, saya ingin memfokuskan pembahasan pada masalah penyalahgunaan inhalan oleh anak – anak jalanan karena penggunaan inhalan yang tidak pada tempatnya ini akan memberi dampak yang dapat dirasakan seumur hidup mereka. Continue reading

Satu Kisah Fatimah

Oleh : Dewi Raihanasyah (Biologi 2007)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Teman2 ku seperjuangan dalam syiar kampus kita di SITH…. Berikut ada suatu teladan yang subhanallah sekali, yaitu sedikit cerita tentang kemuliaan Fatimah Az-Zahra à orang yang paling dicintai Rasullullah SAW. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama dan meneladani akhlaknya yang indah, Sehingga kita bisa masuk dalam daftar orang-orang yang dicintai Rasulullah Saw…. Amin…..

Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad berada di masjid sedang dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta Fatima, yang telah menikah dengan Ali –prajurit umat Islam yang terkenal– datang pada Nabi. Dia meminta dengan sangat kepada ayah nya untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas pekerjaan rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatannya yang buruk, dia tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air dari sumur yang jauh letaknya, di samping juga harus merawat anak-anaknya.

Nabi tampak terharu mendengar permohonan si anak, tapi sementara itu juga Beliau menjadi agak gugup. Tetapi dengan menekan perasaan, Beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, “Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara mereka ya ng terlibat dalam pengabdian ‘Ashab-e Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti.” Anak itu mengundurkan diri dengan rasa yang amat puas karena jawaban Nabi, dan selanjutnya tidak pernah lagi mencari pelay an selama hidupnya.

Fatima Az-Zahra si cantik dilahirkan delapan tahun sebelum Hijrah di Mekkah dari Khadijah, istri Nabi yang pertama. Fatima ialah anak yang keempat, sedang yang lainnya: Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum. Fatima dibesarkan di bawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi umat manusia. Tidak seperti anak-anak lainnya, Fatima mempunyai pembawaan yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah, dan kesahatannya yang buruk men yebabkan ia terpisah dari kumpulan dan permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yag agung itu membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpatik, dan tahu mana yang benar.

Fatima, yang sangat mirip dengan ayahnya, baik roman muka maupun dalam hal kebiasaan yang saleh, adalah seorang anak perempuan yang paling diayang ayahnya dan sangat berbakti terhadap Nabi setelah ibunya meninggal dunia. Dengan demikian, dialan yang sang at besar jasanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya.

Pada beberapa kesempatan Nabi Muhammad SAW menunjukkan rasa sayang yang amat besar kepada Fatima. Suatu saat Beliau berkata, “O… Fatima, Allah tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang orang yang kau senangi.”

Juga Nabi dikabarkan telah berucap: “Fatima itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih, berarti membuat aku juga menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya, berarti menyenangkan aku juga.”

Aisyah, istri Nabi tercinta pernah berkata, “Saya tidak pernah berjumpa dengan sosok probadi yang lebih besar daripada Fatima, kecuali kepribadian ayahnya.”

Atas suatu pertanyaan, Aisyah menjawab, “Fatima-lah yang paling disayang oleh Nabi.”

Abu Bakar dan Umar keduanya berusaha agar dapat menikah denga Fatima, tapi Nabi diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi sendiri, seorang laki-laki yang padanya tergabung berbagai kebajikan yang langka, bersifat kesatria dan penuh keberanian, kesal ehan, dan kecerdasan, merasa ragu-ragu mencari jalan untuk dapat meminang Fatima. Karena dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri meminang Fatima, dan langsung diterima oleh Nabi. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) milikn ya yang bagus. Kwiras ini dimenangkannya pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mempersiapkan upacara pernikahannya. Upacara yang amat sederhana. Agaknya, maksud utama yang mendasari perayaan it u dengan kesederhanaa, ialah untuk mencontohkan kepada para Musllim dan Musllimah perlunya merayakan pernikahan tapa jor-joran dan serba pamer.

fatima hampir berumur delapan belas tahun ketika menikah dengan Ali. Sebagai mahar dari ayahnya yang terkenal itu, ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.

Kepada putrinya Nabi berkata, “Anakku, aku telah menikahkanmu dengan laki laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi daripada yang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan.”

Kehidupan perkawinan Fatima berjalan lanjcar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih, dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat, dan berbakti. Fatima di rumah melaksanak an tugas-tugas rumah tangga; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis melangkah pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun mereka sendiri masih lapar. Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terlekat pada keluarga Nabi tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia, Fatima Zahra terkenal karena kemurahan hatinya.

Pada suatu waktu, seorang dari suku bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir datang kepada Nabi, melontarkan kata-kata makian. Tetapi Nabi menjawab dengan lemah-lembut. Ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia m emeluk agama Islam. Nabi lalu bertanya: “Apakah Anda berbekal makanan?” Jawab orang itu: “Tidak.” Maka, Nabi menanyai Muslimin yang hadir di situ: “Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta tamu kita ini?” Mu’ad ibn Ibada menghadiahkan seekor unta. Nabi sangat berkenan hati dan melanjutkan: “Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain u ntuk penutup kepala saudara seagama Islam?” Kepala orang itu tidak memaki tutup sama sekali. Sayyidina Ali langsung melepas serbannya dan menaruh di a tas kepala orang itu. Kemudian Nabi minta kepada Salman untuk membawa orang itu ke tempat seseorang saudara seagama Islam yang dapat memberinya makan, karena dia lapar.

Salman membawa orang yang baru masuk Islam itu mengunjungi beberapa rumah, tetapi tidak seorang pun yang dapat memberinya makan, kearna waktu itu bukan waktu orang makan.

Akhirnya Salman pergi ke rumah Fatima, dan setelah mengetuk pintu, Salman memberi tahu maksud kunjungannya. Dengan air mata berlinang, putri Nabi ini mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak sudah tiga hari yang lalu. Namun putri Nabi itu en ggan menolak seorang tamu, dan tuturnya: “Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang.”

Fatima lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikannya kepada Slaman, dengan permintaan agar Salman membawanya barang itu ke Shamoon, seorang Yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang yang baru saja memeluk agama Islam itu sangat terharu. Dan orang Yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri Nabi, dan ia juga memeluk agama Islam dengan menyatakan bahwa Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.

Salman balik ke rumah Fatima dengan membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri, Fatima menggiling jagung itu, dan membakarnya menjadi roti. Salman menyarankan agar Fatima menyisihkan beberapa buath roti intuk anak-anaknya yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak untuk berbuat demikian, karena ia telah memberikan kain kerudungnya uitu untuk kepentinga Allah.

Fatima dianugerahi lima orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, dan Muhsin, dan dua putri: Zainab dan Umi Kalsum. Hasan lahir pada tahun kegia dan Husein pada tahun keempat Hijrah. Muhsin meninggal dunia waktu masih kecil.

Fatima merawat luka Nabi sepulangnya dari Perang Uhud. Fatima juga ikut bersama Nabi ketika merebut Mekkah, begitu juga ia ikut ketika Nabi melaksanakan ibadah Haji Waqad, apda akhir tahun 11 Hijrah.

Dalam perjalanan haji terakhir ini Nabi jatuh sakit. Fatima tetap mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi membisikkan sesuatu ke kuping Fatima yang membuat Fatima menangis, dan kemudian Nabi membisikkan sesuatu lagi yang membuat Fatima tersenyum. Setelah nabi wafat, Fatima menceritakan kejadian itu kepada Aisyah. Ayahnya membisikkan bertia kematianya, itulah yang menyebabkan Fatima menangis, tapi waktu Nabi mengatakan bahwa Fatima-lah orang pertama yang akan berkumpul dengannya di ala m baka, maka fatima menjadi bahagia.

Tidak lama setelah Nabi wafat, Fatima meninggal dunia, dalam tahun itu juga, eman bulan setelah nabi wafat. Waktu itu Fatima berumur 28 tahun dan dimakamkan oleh Ali di Jaat ul Baqih (Medina), diantar dengan dukacita masyarakat luas.
Fatima telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita, dan pada konsepsi manusa yang paling mulia. Nabi sendiri menyatakan bahwa Fatima akan menjadi “Ratu segenap wanita yang berada di Surga.”

Tarbiyyah dan Aktivis Lilin

Diambil dari majalah Tawazun edisi 1 Muharram 1427 H

Dinamis dalam dakwah, performa sempurna, dan membangun kesan produktif. Dikenal sebagai, Aktivis Da’wah. Tapi benarkah ini proses membangun? Yang memberikan cahaya tapi menghabiskan potensi dan nilai diri? Membakar habis ruh yang bergerak dalam jasad yang ragu, seperti lilin.

“Sebenarnya umat islam tidak kekurangan kuantitas, tetapi telah kehilangan kualitas. Kita telah kehilangan bentuk dan keteladanan manusia muslim yang kuat imannya, yang membulatkan dirinya untuk dakwah, yang rela berkorban di jalan dakwah dan jihad fii sabilillah, dan yang senantiasa istoqomah sampai akhir hayatnya. Maka marilah kita beriltizam dengan tarbiyah dan janganlah kita ridha menukarnya dengan cara- cara yang lain.” Demikian taujihat yang disampaikan ustad Musthafa Masyur.

Inilah arahan yang mengajarkan kita tentang tujuan dari sebuah kerisauan. Suatu perasaan yang senantiasa kita butuhkan untuk memantapkan satu kata dalam konsep diri kita, kedewasaan. Kerisauan inilah yang seharusnya ditempatkan di atas rel yang benar. Kepada umat dan kader dakwah ini, risau karena kualitas, dan bukan sekedar pada kuantitas. Risau kapada diri kita, kepada kelarga, dan kepada seluruh manusia yang telah dan akan membangun interaksinya dengan kita. Interaksi spesifik, interaksi ketaatan, interaksi dakwah.

Gambaran tersebut diwakili oleh fulan, Seorang Aktivis Dakwah Kampus. Perenungan mengantarkan pada diskusi suatu majelis yang diikutinya. “Ustadz, ini menjadi masalah dalam diri ane. Ane mencermati perilaku dan keluhan aktivis dakwah. Gambarannya begini, ketika seorang hamba memiliki kuantitas ibadah yang bertambah, maka seharusnya berkorelasi positif terhadap kualitas keimanan hamba tersebut. Dalam perspektif dakwah pun seharusnya berlaku hal yang sama. Seorang aktivis, ketika frekuensi aktivitas dakwahnya semakin padat, maka seharusnya ia juga memiliki kualitas keimanan yang juga meningkat. Akan tetapi kenyataan di lapangan terlihat agak berbeda. Seringkali aktivitas dakwah yang padat menggerus dan menyerap habis kesabaran, tabungan empati, dan kedewasaan da’i. Kami menjadi lebih emosional , kehilangan nuansa ukhuwah, dan yang parah adalah melihat amanah dakwah sebagai suatu beban. Kami merasa terjebak dalam sekedar aktivitas formal keorganisasian, sekedar ‘robot- robot’ pelaksana proker. Bahwa amalan tersebut tidak berbeda dengan amalan mahasiswa lain yang menggelar konser musik kampus dan sejenisnya. Parahnya lagi, mereka terlihat lebih ‘hidup’ dengan dinamika aktivitasnya dibandingkan dengan nuansa yang kami miliki dalam mengemban amanah dakwah ini. Bahkan terkadang setan datang dan memberikan was was. Muncul pertanyaan-pertanyaan, susah amat sih menjadi selalu baik di hadapan orang. Atau ungkapan bahwa ane merasa memiliki kepribadian ganda, di depan orang lain selalu dituntut baik, tetapi sebenarnya lemah ketika sendirian, dan seterusnya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?”

Aktivis Lilin

Gambaran yang dimiliki oleh Fulan tersebut merupakan gambaran dari aktivis lilin. Tampil sebagai Da’I yangmemberikan pencerahan kepada masyarakat kampus, akan tetapi secara sadar membakar potensi keimanan yang dimilikinya. Penyebabnya adalah pemahaman yang memandang agenda dakwah berbingkai keiatan organisasi lebih utama daripada agenda pembinaan. Perilaku turunannya adalah tidak jarang aktivis dakwah meminta izin dari jadwal tarbiyah karena ada syura dakwah. Pada saat itulah potensi keimanan sang aktivis tidak ter upgrade. Padahal itulah bekalan yang harus selalu tersedia dalam agenda dakwah sekecil apapun. Dari pemahaman yang keliru tadi, aktivitas dakwah sang aktivis ‘membakar’ habis potensi dirinya. Menjadi futur adalah konsekuensi logis yang pasti terjadi.

Tanpa kita sadari seringkali kita terjebak di dalam konteks tersebut. Semangat yang kita miliki dalam dakwah sangat kondisional. Ketika lingkungan kondusif untuk dakwah, maka kita akan tampil optimal. Akan tetapi ketika lingkungan melemah dan amanah dakwah hanya tersampir di pundak segelintir ikhwah, maka kita pun melemah, meleleh, dan akhirnya padam, seperti lilin.

Substansi dan Kedudukan Tarbiyah

Jika tarbiyah tidak penting tidak mungkin Syaikh M.Masyhur menegaskan “Marilah kita beriltizam dengan tarbiyah dan janganlah kita ridha dengan cara-cara yang lain.” Sebab tarbiyah adalah wadah dimana kita melengkapi pemahaman dan bekalan dakwah. Modal yang menjelma menjadi ciri dan karakter kita dalam menegakkan amanah kebaikan dan menyerukan islam.

Dimanakah kiranya kita bisa dapatkan tempat yang menempa kita menjadi seorang mujahid? Sosok yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap agamanya, pemahaman yang menyeluruh, lengkap dan orisinal terhadap kitabullah dan Sunnaturrasul. Dan ia harus memiliki keihlasan yang besar untuk menjadi laskar dakwah dan aqidah. Bukan laskar organisasi kampus apalagi laskar lainnya yang hanya mengejar keuntungan dan tujuan materi semata. Bukan pula laskar yang semata- mata mengejar kepentingan diri sendiri dan popularitas. Menjadi sosok yang mengutamakan kerja daripada hanya sekedar berbicara. Yang seimbang perkataan dan perbuatan. Yang mengena dengan pasti jalan yang dilaluinya dan mengikhlaskan niatnya karena Allah semata.

Kisah-Kisah dan Cerita

Oleh : Hida (Biologi 2006)

Bukan tempat yang pas

Seorang lelaki baru saja keluar dari rumahnya menuju pasar untuk membeli seekor keledai. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang temannya yang bertanya kepadanya tentang arah tujuannya berjalan.

Ia pun menjawab, “Saya akan ke pasar untuk membeli seekor keledai.”

Temannya berkata lagi, “Ucapkanlah insya Allah (jika Allah menghendaki)!

Lelaki itu pun menjawab, “Bukan di sini tempat mengucapkan insya Allah. Uang untuk membeli keldai sudah ada di saku bajuku, keledai yang akan kubeli sudah ada di pasar. Jadi, rasanya tidak perlu saya mengucapkan insya Allah.”

Ketika sang lelaki melanjutkan perjalanannya ke pasar, tanpa diduga uang di saku bajunya dicuri oleh seseorang. Maka ia pun pulang ke rumahnya dalam keadaan sangat sedih.

Di tengah perjalanan, ia bertemu lagi dengan teman yang tadi menyapanya ketika ia berangkat ke pasar. Melihat temannya bersedih, teman lelaki itu pun bertanya, ”Apa yang terjadi sehingga membuatmua sedih?”

Sang lelaki itu pun menjawab, ”Uangku telah dicuri, insya Allah.”

Temannya menjawab, ”Bukan di situ tempatnya mengucapkan insya Allah.”

Diambil dari majalah Elfata edisi 12 vol. 8 2008

(Qoshashul ‘Arab, karya Ibrahim Syamsudin)

Gelisah karena banyak masalah?

Gelisah karena cinta tak berbalas?

Obati gelisah dan kecewamu dengan resep manjur ini!

Cinta Tak Kenal Gelisah

Gelisah dan khawatir kalau tidak lulus ujian nasional atau lulus suatu mata kuliah. Gelisah karena tak pernah dapat gebetan, alamat kelak susah jodoh. Gelisah karena tak bisa tampil oke dan keren seperti temen-temen yang ortunya tajir. Gelisah karena tak bisa komunikasi lancar dengan teman dan guru. Gelisah karena uang saku yang diberikan ortu tak pernah naik padahal semua kebutuhan sudah naik. Gelisah karena tampang diri cuma pas-pasan. Gelisah karena perbuatan baikmu dan sikap cintamu tak pernah berbekas dan berbalas. Seribu satu kegelisahan mungkin saja menyentuh hatimu. Segera usir rasa gelisahmu!

LURUSKAN IMAN

Saat kamu selalu gelisah, cobalah renungkan kembali keadaan jiwamu. Kamu akan menemukan bahwa ada hal yang kurang dalam keimananmu pada Allah. Kenapa? Apa hubungan antara kebenaran iman dengan kegelisahan? Baiklah, silakan buka Al-Quran surat An-Nahl ayat ke-97.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kam berikan kepadanya kehidupan yang baikdan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Benar, seorang yang beriman tidak akan lepas dari yang namanya ujian, kedudukan, cemas dan segala yang tidak disukai oleh hati. Namun ia akan menjadi pribadi yang berbeda dari orang lain yang beriman. Rasa cemas, kacau, risau, dan cobaan akan selalu dihadapi dengan kelapangan dada oleh orang yang beriman. Mengapa bisa begitu? Ya, karena ia mengetahui makan kesabaran, pahala orang-orang yang sabar dan balasan yang akan ia terima dari Allah.

Sebaliknya, orang-orang yang belum beriman dengan benar , pasti akan menghadapi musibah dengan kepanikan, kecemasan, keputusasaan, keluh kesah, dan selalu gelisah. Akibatnya mengerikan. Orang seperti ini akan menderita, tegang , atau didera ketakutan yang hebat. Ia tak pernah mengharapkan pahala dari Allah. Demikian pula ia tak pernah takut pada siksa-Nya. Kadang ia mengatakan ”Sabar….Sabar….” Tapi apalah arti kesabaran baginya selain ungkapan keputusasaan, tak punya pengharapan dan tanpa keinginan pahala dari Allah.

Nah, saat kamu selalu gelisah, renungkan kembali apakah kamusudah memiliki sifat orang beriman yang paham makna kesabaran itu? Sangat luar biasa gambaran orang beriman seperti yang disampaikan Nabi Muhammmad S.A.W.

”Sungguh mempesona urusan orang yang beriman. Semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun selain orang yang beriman. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka hal itu menjadi baik baginya. Dan jika dilanda kesusahan ia bersabar, maka hal itu menjadi baik baginya.”

Kamu selalu gelisah?Perbaiki keimanan dan hubunganmu pada Allah. Pelajari lagi rukun iman yang jumlahnya enam dengan benar. Kemudian kuatkan lagi keimanan itu dengan mentadabburi Al-Quran dan mempelajari sabda Nabi. Kamu akan semakin mengenal Allah dengan itu.

BERBUAT BAIK SAJA

”Aku memberinya susu, ia malah membalasku air tuba!” Kamu mungkin pernah memberikan kebaikan pada seseorang, namun ternyata orang yang kamu beri kebaikan dan cinta malah membalasmu dengan jahat dan tidak mau mengakui kebaikanmu. Kamu jadi kecewa. Memang terkadang hati kamu jadi sakit karena balasan kejelekan dari orang yang telah kamu beri kebaikan. Hatimu bisa dongkol, gelisah, susah, resah, dan geram, huuh…Makanya sejak awal pancangkan dengan kokoh, niat berbuat kebaikan untuk meraih ridho Allah saja. Bertekadlah untuk selalu berbuat baik kepada semua orang siapapun mereka- tanpa pamrih. Dan jangan pernah menunggu ucapan terima kasih dari siapapun. Praktekan saja yang diungkapkan hamba beriman di dalam Al-Quran.

”Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al Insan:9)

Tak penting orang lain mau membalas kebaikanmu atau tidak. Yang penting terus saja berbuat baik tanpa henti, demi mengharap ridha Allah. Percayalah, hatimu bakal jadi tenteram. Cinta yang indah tak kenal dengan gelisah.

Diambil dari majalah Elfata edisi 12 vol. 8 2008