Cinta Bukan Datang Dari Hati!

Oleh : Danni Gathot Harbowo (Biologi 2008)

Cinta : Hasil Manipulasi Dopamin Selama 4 Tahun

Ketika cinta sedang melanda diri kita, semua yang kita rasakan dengan indra kita begitu indah dan damai. Kita merasa sangat bahagia dan gembira jika kita melihat orang yang kita cintai ada dihadapan kita. Kita bisa melakukan hal gila dan tak logis ketika kita merasa harus berkorban untuk cinta yang kita rasakan. Tapi pada akhirnya kita tidak mampu mendefinisikan apa arti cinta secara gamblang. Namun tanpa disadari cinta yang kita rasakan sebenarnya adalah pengaruh dopamin dengan konsentrasi berlebih pada saraf.

Dopamine adalah salah satu senyawa kimia neurotrasmiter atau penghantar implus pada sinaps saraf yang dihasilkan otak bagian tengah (MidBrain). Konsentrasi dopamin pada saraf akan mempengaruhi kita dalam hal persepsi suka dan duka khususnya rasa cinta.  Tanpa disadari dopamin telah memanipulasi otak kita sehingga hal yang tak logis menjadi logis, sulit untuk fokus, sering melamun, dan memiliki sifat setia.

Secara fisiologi, dopamin berlebih akan menurunkan kinerja otak kiri dan meningkatkan kinerja otak kanan. Otak kanan bekerja dalam hal kreatifitas dan otak kiri bekerja dalam hal logika. Inilah alasannya mengapa puisi dan syair cinta lebih mudah dikarang oleh seniman ketimbang ilmuwan.

Menurut Sony Heru Sumarsono(Dosen Anatomi dan Fisiologi Hewan – ITB), dopamin dalam saraf dengan konsentrasi tinggi akan menimbulkan rasa cinta dan hanya akan bertahan 3 sampai 4 tahun. Kemudian dopamin itu akan kembali normal, disaat itulah kita akan merasa kehilangan alasan  untuk mencintai orang yang telah kita cintai.

Tak Ada Cinta yang Abadi, Namun Cinta Bisa Dimanipulasi

Cinta itu seperti cahaya, berupa stimulus (rangsangan) dari luar, dan mencintai itu seperti melihat, suatu tindakan  untuk menerima stimulus. Cinta yang kita rasakan adalah  akibat akumulasi stimulus ketertarikan dari berbagai stimulus, dapat berupa gelombang elektromagnetik (cahaya yang dipantulkan) ketika kita melihat si doi, gelombang longitudinal (suara yang dikeluarkan), berupa zat kimia (bau yang tercium atau tidak tercium*), bahkan sentuhan. Setelah stimulus itu datang, maka secara sadar atau tidak sadar kita akan memutuskan untuk menerima stimulus itu atau tidak. Jika diterima, kita akan mencintai orang tersebut, dan sebaliknya.

*Feromon: hormon pengikat pasangan yang muncul dari ketiak dan tidak berbau.

Ketika kita menerima stimulus cinta tersebut, tubuh secara otomatis akan merespon, diantaranya peningkatan konsentrasi dopamin pada saraf otak. Otak akan mengatur metabolisme tubuh dengan keadaan yang berbeda dengan keadaan ketika kita sedang tidak jatuh cinta. Seperti mempercepat aliran darah (sehingga jantung berdetak cepat), menurunkan kerja otak kiri (sehingga kita sulit fokus dan grogi), meningkatkan kerja otak kanan (sehingga kita sering melamun). Konsentrasi dopamin yang tinggi ini akan  turun terus menerus hingga akhirnya kembali normal dan rasa cinta yang kita rasakan disaat itu tidak sehebat ketika kita pertama kali jatuh cinta. maka disimpulkan bahwa tak ada cinta yg abadi.

Tak usah khawatir, cinta dapat dimanipulasi kapan saja, artinya kita dapat terus mencintai seseorang hingga akhir hayat. dopamin dapat ditingkatkan dengan melakukan stimulus yang telah ditulis diatas, dengan secara terus menerus dan rutin. Namun dalam peningkatan dopamin ini jangan terlalu sering, karena dapat menyebabkan saraf menjadi resisten (kebal) terhadap dopamin (sehingga kita merasa terbiasa dengan cinta itu dan sensasi cinta kurang bisa dirasakan bahkan bosan).

Semoga pembaca menggunakan ilmu ini dijalan-Nya, agar Allah SWT meridhoi pembaca dalam menggunakan ilmu ini. karena Dia lah yang mengijikan dopamin ada di diri pembaca.

Advertisements